Taman Buru Masigit Kareumbi (TBMK) adalah salah satu kawasan yang mengalami perubahan tutupan lahan, diantaranya karena konversi hutan menjadi lahan pertanian yang dapat memberikan dampak pada integritas ekologis kawasan konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dinamika perubahan tutupan lahan pada tahun 2019, 2022, dan 2025 serta mengidentifikasi di mana saja letak area deforestasi yang terjadi di Taman Buru Masigit Kareumbi. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengkuantifikasi pola fragmentasi hutan menggunakan landscape metrics. Analisis spektral dilakukan dengan menggunakan Google Earth Engine untuk mendapatkan citra Sentinel 2 pada tahun 2019, 2022, dan 2025 menggunakan metode Spectral Mixture Analysis. Kemudian dilakukan klasifikasi dan uji akurasi dengan ArcGIS Pro untuk mendapatkan 6 kelas penutupan lahan sehingga dapat diketahui dinamika perubahan tutupan lahan yang terjadi. Selanjutnya dilakukan analisis fragmentasi dengan menggunakan Fragstats untuk mendapatkan kuantifikasi struktur bentang alam dan pola fragmentasi hutan menggunakan landscape metrics. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan TBMK masih di dominasi oleh tutupan hutan lahan kering dengan luas yang stabil di atas 11.000 ha dari tahun 2019 hingga 2025. Meskipun ekosistem perlindungan inti relatif utuh, akan tetapi area non hutan seperti ladang dan permukiman di zona “buffer” 1 km terus mengalami perluasan dari tahun 2019-2025 dan semakin mendekati perbatasan kawasan. Kawasan konservasi mengalami peningkatan laju deforestasi sebesar 138,51 ha per tahun pada periode 2022-2025 yang disebabkan oleh alih fungsi hutan menjadi ladang. Pada periode 2019-2022 dan 2022-2025, aktivitas perambahan hutan sangat terkonsentrasi pada kelerengan 15-25% dan 25-45% yang kebanyakan barada di bagian tepi batas kawasan. Adanya peningkatan pada jumlah patch hutan dari 873 pada tahun 2019 menjadi 1.190 pada tahun 2022 menandakan area hutan mengalami fragmentasi. Dampak ekologi dari fragmentasi ini menyebabkan berkurangnya total area inti hutan secara drastis dari 8.842,91 ha pada tahun 2019 menjadi 7.096,68 pada tahun 2025.
Perpustakaan Digital ITB