digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Perubahan tata guna lahan merupakan faktor utama yang mempengaruhi respon hidrologi Daerah Aliran Sungai (DAS), khususnya terhadap debit aliran dan sedimentasi. DAS Progo sebagai salah satu DAS strategis di Pulau Jawa mengalami dinamika perubahan penggunaan lahan yang cukup signifikan sehingga diperlukan kajian komprehensif untuk mengevaluasi dampaknya terhadap kondisi hidrologi dan sedimentasi DAS. Penelitian dilakukan untuk menganalisis perubahan debit dan sedimentasi akibat perubahan lahan di DAS Progo menggunakan model SWAT+. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah peta penggunaan lahan, tanah, topografi, data iklim harian selama periode tertentu, serta data debit harian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan tata guna lahan menjadi hutan maupun lahan terbangun secara signifikan mempengaruhi limpasan permukaan, debit, dan sedimentasi di sungai. Validasi model menunjukkan bahwa model memiliki kinerja yang baik ditunjukkan dengan nilai NSE, KGE, dan R2 yang memenuhi standar evaluasi model hidrologi. Hasil analisis dan pemodelan digunakan sebagai dasar penentuan sub-DAS prioritas konservasi. Digunakan indeks penilaian berbasis multi-parameter yang meliputi besaran sediment yield tahun 2024, perubahan sediment yield periode 2017–2024, proporsi luas sub-DAS terhadap luas total DAS, serta persentase zona cekungan air tanah pada masingmasing sub-DAS. Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh sub-DAS prioritas konservasi, yaitu sub-DAS 17, 19, 11, 14, dan 22. Skenario perubahan lahan yang diaplikasikan adalah menambahkan reforestasi yang menghasilkan penurunan nilai limpasan permukaan dan sedimentasi. Sedangkan skenario eksploitasi dengan menambahkan lahan terbangun menghasilkan peningkatan limpasan permukaan dan sedimentasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan tata guna lahan yang berkelanjutan sangat penting dilakukan untuk menjaga keseimbangan fungsi hidrologi dan sedimentasi di DAS Progo. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam perencanaan konservasi tanah dan air di DAS Progo.