digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak inggris
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Abstrak
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Waduk Jatiluhur merupakan salah satu sentra budidaya ikan mas (Cyprinus carpio) dengan sistem keramba jaring apung (KJA), namun posisinya di hilir Daerah Aliran Sungai Citarum membuatnya rentan terhadap pencemaran logam berat. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsentrasi logam berat pada air dan daging ikan mas, menghitung nilai Bioconcentration Factor (BCF), serta menilai implikasinya terhadap kualitas perairan dan keamanan konsumsi. Sampel air dan ikan diambil dari lima titik KJA pada dua kedalaman, lalu dianalisis menggunakan Inductively Coupled Plasma- Mass Spectrometry (ICP-MS). Konsentrasi logam dibandingkan terhadap baku mutu air Kelas II (PP No. 22 Tahun 2021) dan baku mutu keamanan pangan (SNI 7387:2009), sedangkan tingkat akumulasi dinilai berdasarkan kriteria BCF. Hasil menunjukkan besi (Fe) dan seng (Zn) mendominasi logam terlarut, dengan kromium (Cr), tembaga (Cu), dan seng (Zn) melampaui baku mutu Kelas II di sebagian besar titik, sementara arsen, selenium, dan kadmium tidak terdeteksi. Pada daging ikan, logam toksik yang diregulasi masih berada di bawah baku mutu SNI 7387:2009. Nilai BCF rata-rata tergolong sedang untuk Cu, Ni, dan Zn (30–100 L/kg) serta rendah untuk Fe, Mn, dan Cr (<30 L/kg), yang menunjukkan kapasitas biokonsentrasi tidak tinggi. Dengan demikian, daging ikan mas saat ini masih tergolong aman dikonsumsi berdasarkan logam toksik yang diregulasi, meskipun pelampauan baku mutu air dan tingginya kadar logam esensial menuntut pemantauan berkelanjutan.