Kebutuhan air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Siak, Provinsi Riau terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, perkembangan wilayah, dan peningkatan aktivitas baik pada sektor domestik, industri maupun pertanian. Kondisi tersebut memerlukan pengelolaan akan sumber daya air agar keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air tetap terjaga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis neraca air, mengevaluasi alokasi air antarsektor, serta menilai kemampuan sistem sumber daya air DAS Siak dalam memenuhi kebutuhan air pada kondisi eksisting yaitu tahun 2024 dan skenario pengelolaan yaitu pada tahun 2045. Studi ini memodelkan neraca dan alokasi air menggunakan Water Evaluation and Planning (WEAP) yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Model dikembangkan berdasarkan 88 demand site yang terdiri atas 18 titik pengambilan air domestik (PDAM), 61 industri, dan 9 daerah irigasi. Ketersediaan air direpresentasikan menggunakan debit andalan Q50 dan Q80 untuk mewakilkan ketersediaan air pada tahun normal dan tahun kering. Nilai consumption pada sektor domestik sebesar 80%, sektor industri 50%, dan 45% untuk sektor irigasi. Validasi model dilakukan dengan membandingkan debit hasil simulasi terhadap data observasi pada Pos Duga Air (PDA) Pantai Cermin menggunakan parameter statistik koefisien korelasi Pearson (r), koefisien determinasi (R2), Nash-Sutcliffe Efficiency (NSE), dan Normalized Root Mean Square Error (NRMSE). Hasil validasi menunjukkan nilai r sebesar 0,92, R² sebesar 0,84, NSE sebesar 0,77, dan NRMSE sebesar 17%, yang mengindikasikan bahwa model mampu merepresentasikan kondisi hidrologi DAS Siak dengan baik. Hasil simulasi tahun 2024 menunjukkan bahwa kebutuhan air rata-rata tahunan terbesar berasal dari sektor industri sebesar 7,85 m³/s, diikuti sektor irigasi sebesar 7,71 m³/s dan sektor domestik sebesar 2,58 m³/s. Evaluasi pada seluruh demand site menunjukkan tidak terdapat unmet demand dan tingkat pemenuhan kebutuhan air (coverage) mencapai 100%. Skenario proyeksi tahun 2045 disusun dalam tiga skenario. Skenario 1 mempertimbangkan peningkatan kebutuhan air dengan ketersediaan air tetap menggunakan debit andalan Q50. Hasil simulasi Skenario 1 menunjukkan bahwa seluruh kebutuhan air pada tahun proyeksi masih dapat dipenuhi dengan nilai coverage sebesar 100% dan unmet demand sebesar 0 m³/s. Skenario 2 mengevaluasi pengaruh penurunan ketersediaan air pada kondisi debit andalan Q80 terhadap pemenuhan kebutuhan proyeksi tahun 2045, dan menunjukkan bahwa unmet i demand mulai terjadi pada sektor industri (PT. PN V Talang Danto) di Sungai Batang Paimbaran, Hulu DAS Siak mulai pada Juli 2033 dan terus meningkat hingga mencapai 0,125 m³/s pada tahun 2045, sementara sektor domestik dan irigasi tetap terpenuhi seluruhnya tanpa unmet demand. Skenario 3 mengevaluasi pengaruh perubahan prioritas alokasi antarsektor pada kondisi skenario 2 dan menunjukkan bahwa perubahan prioritas tersebut tidak memengaruhi sektor, waktu, maupun besaran unmet demand yang terjadi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan air pada kondisi debit andalan Q50 masih mampu memenuhi kebutuhan seluruh sektor hingga tahun 2045, namun pada kondisi debit andalan Q80 yang merepresentasikan tahun kering, keterbatasan ketersediaan air mulai memengaruhi pemenuhan kebutuhan sektor industri, sedangkan perubahan prioritas alokasi air tidak memberikan pengaruh terhadap hasil pemenuhan kebutuhan tersebut.
Perpustakaan Digital ITB