Pergeseran paradigma pendidikan menuju pembelajaran aktif (konstruktivisme)
menuntut fleksibilitas tata letak ruang kelas. Namun, implementasi dinamis ini
sering kali terhambat oleh faktor fisik furnitur yang berat dan tidak mendukung
mobilitas. Penelitian ini berargumen bahwa masalah mobilitas tersebut tidak hanya
disebabkan oleh ketidaksesuaian dimensi (mismatch), melainkan akibat kegagalan
desain dalam memberikan affordances (petunjuk visual) yang tepat mengenai cara
mengangkat kursi dengan aman.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kesesuaian fitur affordances pada
desain kursi kayu dan kursi fabrikasi, serta memetakan dinamika perilaku
mengangkat (lifting behavior) siswa. Pendekatan yang digunakan adalah MixedMethods Exploratory Sequential yang melibatkan 30 partisipan siswa kelas 3 SD.
Pengumpulan data mencakup kuesioner persepsi kognitif (Pre-Task), observasi
rekaman video melintasi tiga fase pergerakan utama (Angkat, Naik, Turun), serta
evaluasi kualitatif retrospektif melalui wawancara dan skala pengukuran beban.
Penelitian ini menyimpulkan adanya kesamaan pola perilaku kompensasi pada
kedua kursi akibat kegagalan afordansi, meskipun wujud fisiknya berbeda. Pada
kursi Traforka, inovasi lubang pegangan terbukti menjadi False Affordance yang
memicu disonansi kognitif dan rasa sakit pada jari, sehingga siswa menggeser
tumpuannya ke rangka penyangga tengah. Sementara itu, ketiadaan petunjuk visual
pada kursi kayu memicu anomali Joint Grasping di mana siswa terpaksa
mengeksploitasi persendian tajam. Kedua fenomena ini membuktikan bahwa
insting perlindungan tubuh secara mutlak mengesampingkan panduan visual desain
apabila berkonflik dengan batas toleransi biomekanika. Oleh karena itu,
direkomendasikan perlunya integrasi titik pegangan dengan pusat gravitasi objek
yang mengakomodasi geometri Power Grip demi mencegah cedera
muskuloskeletal pada usia pertumbuhan.
Perpustakaan Digital ITB