digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pergeseran paradigma pendidikan menuju pembelajaran aktif (konstruktivisme) menuntut fleksibilitas tata letak ruang kelas. Namun, implementasi dinamis ini sering kali terhambat oleh faktor fisik furnitur yang berat dan tidak mendukung mobilitas. Penelitian ini berargumen bahwa masalah mobilitas tersebut tidak hanya disebabkan oleh ketidaksesuaian dimensi (mismatch), melainkan akibat kegagalan desain dalam memberikan affordances (petunjuk visual) yang tepat mengenai cara mengangkat kursi dengan aman. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kesesuaian fitur affordances pada desain kursi kayu dan kursi fabrikasi, serta memetakan dinamika perilaku mengangkat (lifting behavior) siswa. Pendekatan yang digunakan adalah MixedMethods Exploratory Sequential yang melibatkan 30 partisipan siswa kelas 3 SD. Pengumpulan data mencakup kuesioner persepsi kognitif (Pre-Task), observasi rekaman video melintasi tiga fase pergerakan utama (Angkat, Naik, Turun), serta evaluasi kualitatif retrospektif melalui wawancara dan skala pengukuran beban. Penelitian ini menyimpulkan adanya kesamaan pola perilaku kompensasi pada kedua kursi akibat kegagalan afordansi, meskipun wujud fisiknya berbeda. Pada kursi Traforka, inovasi lubang pegangan terbukti menjadi False Affordance yang memicu disonansi kognitif dan rasa sakit pada jari, sehingga siswa menggeser tumpuannya ke rangka penyangga tengah. Sementara itu, ketiadaan petunjuk visual pada kursi kayu memicu anomali Joint Grasping di mana siswa terpaksa mengeksploitasi persendian tajam. Kedua fenomena ini membuktikan bahwa insting perlindungan tubuh secara mutlak mengesampingkan panduan visual desain apabila berkonflik dengan batas toleransi biomekanika. Oleh karena itu, direkomendasikan perlunya integrasi titik pegangan dengan pusat gravitasi objek yang mengakomodasi geometri Power Grip demi mencegah cedera muskuloskeletal pada usia pertumbuhan.