digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Muhamad Rian
PUBLIC Open In Flipbook yana mulyana

Penyakit Tidak Menular (PTM) menjadi masalah utama dalam transisi epidemiologi di seluruh dunia. Penyakit seperti diabetes melitus, jantung, hipertensi, stroke, dan penyakit ginjal adalah penyakit kronis dengan angka kematian dan biaya kesehatan terbesar. Di Indonesia, laporan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) oleh Badan Pusat Statistik (BPS), menjelaskan bahwa PTM masih menjadi masalah utama bagi pembangunan nasional. PTM disebabkan oleh perilaku dan gaya hidup yang buruk, seperti kurangnya aktivitas fisik, merokok dan diet yang tidak sehat. Selain itu, tingkat aktivitas yang tidak dilakukan secara konsisten dapat meningkatkan faktor risiko penyakit tidak menular, seperti seperti diabetes, obesitas, hipertensi dan akan menyebabkan penyumbatan yang mengakibatkan terjadinya penyakit jantung dan stroke. Dengan mengetahui tingkat aktivitas fisik, individu dapat memprediksi risiko kesehatan dimasa depan serta dapat menekan jumlah pembiayaan kesehatan terhadap penyakit tidak menular. Untuk memecahkan masalah tersebut, perubahan gaya hidup terhadap faktor risiko penyakit sangat diperlukan, individu harus memiliki pengetahuan tentang tingkatan dan manfaat dari kebugaran jasmani, salah satunya dengan menggunakan instrumen aktivitas fisik yang mudah, murah dan cepat sangat dibutuhkan, yaitu kuesioner Baecke Habitual Physical Activity Questionnaire (BAECKE 2.0). Instrumen ini berfokus pada kemampuan mengukur jumlah aktivitas fisik seseorang selama tiga bulan terakhir, memiliki 16 item dan 3 domain, yaitu: Pekerjaan (P1-P8); Olahraga (P9-P12); dan Waktu Luang (P13-P16). Hingga saat ini, di Indonesia, BAECKE 2.0 belum terverifikasi secara formal, struktur kuesioner perlu di analisa dan penting untuk memastikan bahwa instrumen sesuai dengan budaya lokal. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data kuesioner adaptasi lintas budaya untuk mengetahui kelayakan isi kuesioner, lalu menjelaskan informed consent kepada calon responden untuk meminta persetujuan mengikuti penelitian, setelah itu uji statistik untuk menganalisis data responden, selanjutnya mendeskripsikan profil responden secara menyeluruh. Desain cross-sectional digunakan untuk mengevaluasi kualitas instrumen dan memprediksi antara profil perilaku gerak harian dengan indikator risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) pada populasi dewasa. Kerangka COSMIN 2.0 sebagai rekomendasi standar pengukuran terkait relevansi dan kualitas agar dapat diterapkan secara sematik, konseptual dan kontekstual dengan budaya, literasi, dan pola aktivitas fisik responden. Estimasi model menggunakan metode polychoric matrix karena bersifat skala ordinal dan Robust Diagonally Weighted Least Square (DWLS) dipilih berdasarkan data skala ordinal tidak membutuhkan asumsi normalitas multivariat yang ketat dan menghasilkan parameter indeks kecocokan yang akurat. Software Microsoft Excel dan aplikasi RStudio digunakan dengan dua prosedur analisis yaitu CVC dan CFA. Nilai rata-rata Content Validity Coefficient (CVC) adalah 0,945, menunjukkan nilai yang layak digunakan untuk populasi pekerja di Kota Bandung. Validitas struktural menggunakan metode Confirmatory Factor Analysis (CFA) untuk menganalisis Goodness of Fit. Nilai TLI = 0.938, CFI = 0.948, RMSEA = 0.078, dan SRMR = 0.075 menunjukkan bahwa instrumen memiliki validitas yang memadai dan layak untuk di gunakan di Indonesia khususnya di Kota Bandung. Profil demografi responden menunjukkan tingkat aktivitas fisik harian pada domain olahraga berada pada tingkat yang tertinggi di bandingkan domain lainnya. Domain olahraga memiliki nilai sebesar 3 diikuti domain waktu luang sebesar 2.87 dan domain pekerjaan sebesar 2.64. Hal ini mengindikasikan aktivitas responden dominan diperoleh melalui olahraga terencana sedangkan aktivitas fisik pada hari kerja relatif sedentari. Data tingkat aktivitas fisik pekerja di kota bandung pada domain olahraga menunjukkan tingkatan yang cukup namun waktu luang dan pekerjaan rendah menjadi tanda gaya hidup sedentari yang berdampak pada peningkatan potensi penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular.