Penyakit Tidak Menular (PTM) menjadi masalah utama dalam transisi epidemiologi di seluruh
dunia. Penyakit seperti diabetes melitus, jantung, hipertensi, stroke, dan penyakit ginjal adalah
penyakit kronis dengan angka kematian dan biaya kesehatan terbesar. Di Indonesia, laporan
Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) oleh Badan Pusat Statistik (BPS), menjelaskan
bahwa PTM masih menjadi masalah utama bagi pembangunan nasional. PTM disebabkan oleh
perilaku dan gaya hidup yang buruk, seperti kurangnya aktivitas fisik, merokok dan diet yang
tidak sehat. Selain itu, tingkat aktivitas yang tidak dilakukan secara konsisten dapat
meningkatkan faktor risiko penyakit tidak menular, seperti seperti diabetes, obesitas, hipertensi
dan akan menyebabkan penyumbatan yang mengakibatkan terjadinya penyakit jantung dan
stroke. Dengan mengetahui tingkat aktivitas fisik, individu dapat memprediksi risiko kesehatan
dimasa depan serta dapat menekan jumlah pembiayaan kesehatan terhadap penyakit tidak
menular. Untuk memecahkan masalah tersebut, perubahan gaya hidup terhadap faktor risiko
penyakit sangat diperlukan, individu harus memiliki pengetahuan tentang tingkatan dan
manfaat dari kebugaran jasmani, salah satunya dengan menggunakan instrumen aktivitas fisik
yang mudah, murah dan cepat sangat dibutuhkan, yaitu kuesioner Baecke Habitual Physical
Activity Questionnaire (BAECKE 2.0). Instrumen ini berfokus pada kemampuan mengukur
jumlah aktivitas fisik seseorang selama tiga bulan terakhir, memiliki 16 item dan 3 domain,
yaitu: Pekerjaan (P1-P8); Olahraga (P9-P12); dan Waktu Luang (P13-P16). Hingga saat ini, di
Indonesia, BAECKE 2.0 belum terverifikasi secara formal, struktur kuesioner perlu di analisa
dan penting untuk memastikan bahwa instrumen sesuai dengan budaya lokal.
Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data kuesioner adaptasi lintas budaya
untuk mengetahui kelayakan isi kuesioner, lalu menjelaskan informed consent kepada calon
responden untuk meminta persetujuan mengikuti penelitian, setelah itu uji statistik untuk
menganalisis data responden, selanjutnya mendeskripsikan profil responden secara
menyeluruh. Desain cross-sectional digunakan untuk mengevaluasi kualitas instrumen dan
memprediksi antara profil perilaku gerak harian dengan indikator risiko Penyakit Tidak
Menular (PTM) pada populasi dewasa. Kerangka COSMIN 2.0 sebagai rekomendasi standar
pengukuran terkait relevansi dan kualitas agar dapat diterapkan secara sematik, konseptual dan
kontekstual dengan budaya, literasi, dan pola aktivitas fisik responden. Estimasi model
menggunakan metode polychoric matrix karena bersifat skala ordinal dan Robust Diagonally
Weighted Least Square (DWLS) dipilih berdasarkan data skala ordinal tidak membutuhkan
asumsi normalitas multivariat yang ketat dan menghasilkan parameter indeks kecocokan yang
akurat. Software Microsoft Excel dan aplikasi RStudio digunakan dengan dua prosedur analisis
yaitu CVC dan CFA. Nilai rata-rata Content Validity Coefficient (CVC) adalah 0,945,
menunjukkan nilai yang layak digunakan untuk populasi pekerja di Kota Bandung. Validitas
struktural menggunakan metode Confirmatory Factor Analysis (CFA) untuk menganalisis
Goodness of Fit. Nilai TLI = 0.938, CFI = 0.948, RMSEA = 0.078, dan SRMR = 0.075
menunjukkan bahwa instrumen memiliki validitas yang memadai dan layak untuk di gunakan
di Indonesia khususnya di Kota Bandung.
Profil demografi responden menunjukkan tingkat aktivitas fisik harian pada domain olahraga
berada pada tingkat yang tertinggi di bandingkan domain lainnya. Domain olahraga memiliki
nilai sebesar 3 diikuti domain waktu luang sebesar 2.87 dan domain pekerjaan sebesar 2.64.
Hal ini mengindikasikan aktivitas responden dominan diperoleh melalui olahraga terencana
sedangkan aktivitas fisik pada hari kerja relatif sedentari. Data tingkat aktivitas fisik pekerja di
kota bandung pada domain olahraga menunjukkan tingkatan yang cukup namun waktu luang
dan pekerjaan rendah menjadi tanda gaya hidup sedentari yang berdampak pada peningkatan
potensi penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular.
Perpustakaan Digital ITB