digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Sungai Cipamingkis merupakan salah satu sungai besar yang ada di Jawa Barat. Secara administratif, hulu Sungai Cipamingkis berada di Kabupaten Bogor dan mengalir ke arah utara hingga Kabupaten Bekasi sampai akhirnya bermuara di Sungai Cibeet. Secara batas hidrologis, Sungai Cipamingkis berada dalam Sub DAS Cibeet, yang termasuk dalam DAS Citarum. Sungai Cipamingkis juga mempunyai peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan air untuk masyarakat di sekitar alur sungai, salah satunya adalah sebagai sumber air irigasi utama di sekitar daerah Jonggol, Cariu, serta Bekasi. Pemenuhan air irigasi ditopang oleh keberadaan Bendung Cipamingkis. Selain Bendung Cipamingkis, pada Sungai Cipamingkis terdapat 2 bangunan utama lainnya yaitu Jembatan Jonggol-Cariu dan Jembatan Cibarusah. Ruas Sungai Cipamingkis dari Bendung Cipamingkis sampai dengan Jembatan Cibarusah sepanjang kurang lebih 10 km cenderung mengalami penurunan dasar sungai atau degradasi yang cukup parah. Hal ini diakibatkan oleh kondisi topografi yang terjal. Selain itu, material dasar sungai yang didominasi pasir dan batu menjadi lahan tambang galian C oleh masyarakat di sekitar sungai, sehingga menambah percepatan degradasi dasar di sepanjang segmen sungai ini. Kondisi batuan dasar yang berupa batuan karbonatan juga memperparah degradasi dasar sungai yang terjadi. Akibatnya, terjadi beberapa kali kerusakan pada ketiga bangunan utama di Sungai Cipamingkis. Puncaknya pada tahun 2017, terjadi keruntuhan Bendung Cipamingkis dan Jembatan Jonggol-Cariu. Pada tahun 2017 – 2019, dilakukan pembangunan Bendung Cipamingkis baru kurang lebih 400 m di hulu lokasi bendung lama. Pada tahun 2017 juga dilakukan perbaikan Jembatan Jonggol-Cariu, mengingat pentingnya jembatan tersebut sebagai akses transportasi masyarakat sekitar. Upaya penanganan degradasi dasar Sungai Cipamingkis yang dilakukan dengan membangun bangunan pengendali dasar sungai berupa 10 bangunan groundsill untuk mengamankan ketiga bangunan utama pada ruas tersebut yang dibagi menjadi beberapa paket pekerjaan. Salah satu paket pekerjaan yang dibangun pada tahun 2023 adalah Groundsill 5 dan Groundsill 6. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh bangunan Groundsill 5 dan Groundsill 6 terhadap perubahan dasar Sungai Cipamingkis di sekitar Jembatan Jonggol-Cariu menggunakan perangkat lunak HEC-RAS 2D. Data yang dimasukkan pada perangkat lunak HEC-RAS antara lain data topografi atau DEM hasil pengukuran, data debit, dan data sedimen. Pemodelan dilakukan tanpa mempertimbangkan adanya penambangan galian C dan kondisi batuan dasar di Sungai Cipamingkis. Persamaan angkutan sedimen potensial yang digunakan adalah metode MPM-Toffaletti berdasarkan pemodelan hasil pengukuran tahun 2017 dan membandingkan hasil perubahan dasar sungainya dengan hasil pengukuran tahun 2022. Simulasi pemodelan perubahan dasar sungai dibagi menjadi 8 skenario pemodelan, 4 skenario menggunakan debit banjir rencana periode ulang 2 tahun dan 4 skenario menggunakan debit banjir rencana periode ulang 100 tahun. Hasil analisis menunjukkan ruas Sungai Cipamingkis dari hulu Jembatan Jonggol-Cariu sampai dengan hilir Groundsill 6 berpotensi mengalami degradasi dasar sungai maksimum mencapai 3,31 m dan pada lokasi sekitar Jembatan Jonggol-Cariu mencapai 2,77 m. Bangunan Groundsill 5 dan Groundsill 6 dapat mengurangi potensi degradasi di sekitar Jembatan Jonggol-Cariu menjadi 0,26 m atau berkurang sebesar 90,6%. Ruas sungai yang ditinjau relatif menjadi lebih stabil apabila terbangun Groundsill 5 dan 6 secara bersamaan. Tetapi di hilir bangunan Groundsill 6 potensi degradasi masih cukup tinggi sehingga masih diperlukan upaya penanganan degradasi dasar di hilirnya untuk mengendalikan degradasi dasar Sungai Cipamingkis secara keseluruhan.