Metana adalah senyawa hidrokarbon yang dapat digunakan sebagai bahan bakar
kendaraan maupun bahan baku industri untuk dapat menghasilkan bahan kimia yang lain.
Metana dapat diperoleh dengan pemisahan gas alam menggunakan demethanizer, yaitu
kolom distilasi kriogenik yang berfungsi untuk memisahkan metana dari komponen gas
alam yang lebih berat. Kolom distilasi mengonsumsi sekitar 23% dari total konsumsi
energi untuk sektor pabrik kimia. Dalam mengatasi permasalahan energi tersebut, upaya
yang dapat dilakukan adalah penerapan integrasi panas. Konfigurasi integrasi panas yang
ditinjau pada penelitian ini adalah double-effect demethanizer. Namun, penerapan
konfigurasi tersebut di industri belum marak dilakukan karena melibatkan aliran yang
cukup kompleks. Hal tersebut terjadi karena konfigurasi ini terdiri dari beberapa aliran
recycle yang bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan aliran panas yang dihasilkan
dari sistem untuk digunakan kembali. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi
penerapan konfigurasi integrasi panas pada kolom demethanizer ditinjau pada kondisi
tunak dan kondisi dinamik.
Pada penelitian ini, model simulasi dibangun menggunakan Aspen Hysys versi 11.
Umpan yang digunakan pada penelitian ini adalah gas alam yang telah dilakukan pretreatment
dan sudah siap diumpankan ke dalam kolom demethanizer, dimana spesifikasi
umpan merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh Luyben (2016). Analisis energi akan
dilakukan setelah model tunak kedua konfigurasi dibangun. Setelah itu, akan dilakukan
simulasi dinamik sesuai variasi yang telah ditentukan dan dipelajari respons
pengendaliannya. Selanjutnya, akan dilakukan analisis kestabilan pengendalian kolom
demethanizer secara kuantitatif menggunakan time-integral performance criteria. Hasil
penelitian menujukkan bahwa double-effect demethanizer memberikan penurunan beban
pendinginan sebesar 72,93%, beban pemanasan sebesar 37,52%, dan utility cost sebesar
80,56% dibandingkan dengan demethanizer konvensional. Hasil pada evaluasi kuantitatif
menunjukkan bahwa pengendalian pada double-effect demethanizer juga memberikan
kestabilan yang lebih tinggi dibandingkan pengendalian pada kolom demethanizer
konvensional.
Perpustakaan Digital ITB