digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Dzakira Zharifa Khansa
Terbatas Irwan Sofiyan
» ITB

PUSTAKA Dzakira Zharifa Khansa
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 1 Dzakira Zharifa Khansa
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Dzakira Zharifa Khansa
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Dzakira Zharifa Khansa
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Dzakira Zharifa Khansa
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA Dzakira Zharifa Khansa
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit endemik di Indonesia yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk, khususnya nyamuk spesies Aedes aegypti, yang sudah terinfeksi virus demam berdarah. Salah satu cara untuk mengendalikan nyamuk sebagai vektor DBD yaitu menggunakan larvasida temephos. Namun, penggunaan larvasida dalam skala panjang dapat menyebabkan terjadinya resistensi pada larva sebagaimana telah dilaporkan pada banyak lokasi di Indonesia. Walaupun demikian, penelitian terdahulu menentukan tingkat resistensi terhadap temephos pada wilayah yang luas (kota) sehingga kurang memberikan informasi pada level skala kecil (kelurahan) terutama pada daerah-daerah dengan kepadatan penduduk tinggi. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kerentanan larva Aedes aegypti terhadap larvasida temephos di Kelurahan Sekejati, Kota Bandung. Pada penelitian ini, larva Aedes aegypti didapat dari 4 RW berbeda yang berasal dari Kelurahan Sekajati menggunakan ovitrap. Larva yang digunakan untuk uji resistensi adalah larva instar 3 dan 4. Uji resistensi dilakukan berdasarkan ketentuan WHO dengan 5 dosis temephos berbeda yaitu 0,2 ppm, 0,4 ppm, 0,6 ppm, 0,8 ppm dan 1 ppm. Mortalitas larva dihitung setelah 24 jam terpapar temephos lalu dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis dan dihitung LC50 dari masingmasing RW menggunakan probit analysis kemudian dihitung nilai resistance ratio (RR) di setiap RW. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai RR bervariasi antara 0,26-2,67 di keempat RW. Kesimpulan dari penelitian ini adalah larva Aedes aegypti yang berasal dari Kelurahan Sekejati, Kota Bandung, Jawa Barat secara umum masih rentan terhadap temephos.