digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


2016_TA_PP_HASNA_ANISA_MUTHIA_1-BAB_1.pdf
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan

2016_TA_PP_HASNA_ANISA_MUTHIA_1-BAB_2.pdf
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan

2016_TA_PP_HASNA_ANISA_MUTHIA_1-BAB_3.pdf
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan

2016_TA_PP_HASNA_ANISA_MUTHIA_1-BAB_4.pdf
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan



NO2 merupakan salah satu jenis gas toksik. Pemantauan konsentrasi gas NO2 di udara ambien diperlukan untuk mengetahui tingkat konsentrasinya. Saat ini kendala terbesar dalam penyediaan sarana pemantauan kualitas udara adalah biaya. Oleh karena itu pengembangan teknologi baru berupa sensor gas elektrokimia dengan biaya investasi awal dan biaya operasional rendah sangat dibutuhkan. Sensor gas elektrokimia yang diuji adalah tipe NO2-B42F yang mengukur konsentrasi gas dengan metode sampling pasif dan metode analisa otomatis setiap 2-3 menit sekali. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kinerja alat melalui nilai akurasi dan presisi dari hasil uji di laboratoriun dan di lapangan. Pengujian di laboratorium dilakukan dengan menggunakan variasi konsentrasi gas standar NO2 limit value (0 ppm), upper assessment threshold (0,197 ppm), dan critical value (1,173 ppm) dengan metode pembanding yaitu metode standar Griess Saltzman. Pada pengujian di lapangan, alat sensor elektrokimia diuji ko-lokasi di SPKU Bundaran HI dan SPKU Lubang Buaya dengan metode pembanding chemiluminescence pada alat Horiba NOx Analyzer tipe APNA-370. Analisa dilakukan dengan metode statistika korelasi. Hasil uji laboratorium menunjukkan pembacaan konsentrasi NO2 oleh sensor 0,6132 kali pembacaan metode standar Griess Saltzman dengan tingkat presisi rata-rata sebesar 98,7%. Sebesar 79,4% data menunjukkan tingkat akurasi yang tidak memenuhi ketentuan. Uji ko-lokasi di SPKU Bundaran HI dan Lubang Buaya menunjukkan presisi rata-rata berturut-turut sebesar 96,177% dan 97,651%. Sehingga untuk operating time 1 tahun 8 bulan sensor gas elektrokimia sudah tidak akurat dan tidak presisi untuk mengukur konsentrasi gas NO2. Berdasarkan hasil pengujian di lapangan, parameter meteorologi temperatur, kelembaban relatif dan kecepatan angin memperngaruhi kinerja nilai akurasi sensor.