digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Perkembangan teknologi digital pada aktivitas manusia telah mengubah perilaku manusia saat ini. Sejak lima tahun terakhir, Indonesia telah menjadi salah satu pengembangan produk baru dengan inovasi yang sangat massiv dan mendisrupsi banyak metode atau proses konvensional terutama dalam pembelian dan permintaan suatu produk atau layanan. Sebagai manusia, adopsi hal baru adalah proses yang sulit dan membutuhkan waktu untuk membuat hal-hal baru menjadi hal yang biasa. Adopsi teknologi menjadi sebuah permasalahan dimana tidak semua produk siap untuk mengadopsi teknologi dimana memanfaatkan aplikasi ponsel sebagai kanal distribusi. Dalam analisa permasalahan yang dilakukan, diketahui bahwa terdapat lima segmentasi atau kelompok sosial dalam proses adopsi teknologi. Studi ini akan membahas sebuah perusahaan bernama MuslimApp. Salah satu layanan MuslimApp yaitu memberikan kemudahan konsumen untuk dapat membeli produk aqiqah dan qurban melalui aplikasi ponsel. Aqiqah dan qurban dapat dikategorikan sebagai produk yang memiliki segmentasi khusus seperti early majority dan late majority. Dalam teori siklus adopsi teknologi, segmentasi early majority dan late majority memiliki karakter dimana mereka membutuhkan waktu yang lebih lama dalam proses adopsi teknologi. Untuk mengetahui bagaimana cara untuk dapat menjangkau segmentasi early dan late majority, penelitian ini dilakukan untuk dapat mencari faktor yang dapat mempercepat dan mempermudah proses adopsi teknologi. Diskon, reputasi perusahaan dan tampilan serta kemudahan aplikasi menjadi faktor yang dapat mempengaruhi adopsi teknologi. Dalam proses implementasi, penelitian ini memberikan sebuah rekomendasi mengenai proses maupun pola perjalanan konsumen untuk dapat mengadopsi teknologi dengan bantuan TAM (Technology Adoption Model) sebagai model dalam proses implementasi. Dalam proses analisa permasalahan adopsi teknologi utnuk MuslimApp, penulis menemukan fakta bahwa sebagian besar transaksi untuk produk aqiqah dan qurban masih didominasi oleh transaksi manual. Hal ini disebabkan oleh profil konsumen aqiqah dan qurban dimana didominasi oleh mereka dengan umur, perilaku dan ketertarikan yang berbeda dengan generasi yang menyukai teknologi. Didalam model siklus adopsi teknologi, terdapat sebuah jurang pemisah antara eraly adopters dan early majority. Jurang pemisah ini yang menyebabkan proses transaksi aqiqah dan qurban masih disominasi oleh transaksi laring. Dalam penelitian sebelumnya, terdapat beberapa faktor yang dapat membantu proses adopsi teknologi seperti kemudahan dalam penggunaan teknologi dan manfaat yang harus dirasakan konsumen lebih besar dari metode konvensional. Untuk memenuhi faktor tersebut, perusahaan berbasis layanan aplikasi wajib untuk menyediakan aplikasi yang mudah digunakan dan manfaat yang lebih dalam proses transaksi sebuah produk melalui aplikasi seperti contoh menggunakan diskon untuk transaksi melaui aplikasi. Selain itu, reputasi perusahaan merupakan salah satu aspke penting untuk dapat memberikan rasa aman dan kepercaaan untuk konsumen yang melakukan transaksi utnuk pertama kalinya. Tiga faktir tersebut merupakan faktor yang dapat perusahaan implementasi sebagai bentuk strategi penetrasi pasar. Dalam proses implementasi, penelitian ini memberikan gambaran tentang proises yang terjadi utnuk dapat membantu early adopters, early majority dan late majority dalam proses adospi teknologi. Proses tersebut diawali dengan memastikan infrasturktur teknologi sebuah perusahaan telah memadai. Kemudian memperiapkan kekuatan internal perusahaan seperti struktur organisasi hingga kultur perusahaan disamping mempersiapkan strategi penetrasi dengan ketika faktor yang ditemukan. Early adopters akan memberikan pengaruh kepada early majority sehingga ketika early majority dan late majority telah mengadopsi teknologi, maka dampak sosial ini akan mendorong late majority untuk mengadopsi teknologi dan pada akhirnya perusahaan akan mendapatkan pangsa pasar yang optimal dan meningkatkan pendapatan perusahaan dikemudaian hari.