digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Electrical submersible pump atau biasa yang dikenal dengan istilah ESP merupakan salah satu metode artificial lift yang populer digunakan dalam industri perminyakan. Permasalahan yang paling sering dialami dalam penggunaan ESP di lapangan yaitu adanya gas interference. Gas yang terproduksi bersama minyak sering menyebabkan masalah seperti cavitasi, pump off, penurunan pump head, gas blocking, surging, slugging, dan gas lock. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu metoda untuk mengetahui kestabilan sumur ESP akibat adanya gas yang masuk ke dalam pompa. Turpin Factor merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk menganalisa kestabilan sumur ESP. Metode ini pada prinsipnya menghitung suatu konstanta dimana konstanta tersebut merupakan fungsi dari tekanan intake pompa, laju gas bebas, dan laju liquid yang masuk ke dalam pompa. Apabila konstanta tersebut bernilai, maka ESP dalam keadaan stabil (adanya gas tidak mempengaruhi kinerja pompa). Namun, apabila Turpin Factor bernilai, maka ESP dalam keadaan tidak stabil. Metode Turpin Factor pertama kali diajukan oleh Turpin et al pada tahun 1986 dimana korelasi yang dihasilkan berdasarkan data eksperimen yang dilakukan oleh Lea dan Bearden. Pada tugas akhir ini akan dibahas mengenai kelakuan operasi sumur ESP di Lapangan X berdasarkan Turpin Factor. Metoda ini sangat efektif untuk menentukan kestabilan sumur ESP sehingga dalam pemasangan ESP apakah dibutuhkan gas separator atau tidak.