digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

upload perpus aro.pdf
PUBLIC Open In Flipbook Alice Diniarti

Organisasi melaksanakan inisiatif pengelolaan pengetahuan (knowledge management) untuk memaksimalkan nilai pengetahuan bagi organisasi itu sendiri. Pengetahuan secara alami tersimpan dalam manusia (bersifat tacit atau sulit diuraikan tertulis formal), sehingga organisasi mengalami kesulitan dalam mengukur manfaat inisiatif tersebut melalui alat pengukuran konvensial yang ada, sehingga banyak terjadi kegagalan dalam pelaksanaannya. Kegagalan tersebut terutama disebabkan kurangnya dukungan dari pimpinan karena justifikasi atas pentingnya inisiatif knowledge management (KM) tidak bisa diberikan. Kesulitan lain yang dihadapi adalah bagaimana kegiatan di dalam organiasi bisa berjalan tanpa ada hambatan dari sisi anggaran yang alokasinya tidak pasti karena pengaruh dari internal maupun eksternal. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kesiapan penerapan manajemen pengetahuan di Setditjen Binapenta dan PKK Kementerian Ketenagakerjaan RI dan memberikan rekomendasi berupa strategi perbaikan jika terdapat faktor yang belum siap. Pengukuran kesiapan manajemen pengetahuan menggunakan Knowledge Management Critical Success Factor (KM CSF) yang terdiri dari budaya organisasi, struktur organisasi, sumber daya manusia, teknologi informasi, kepemimpinan dan strategi, dan lingkungan fisik. Serta faktor anggaran yang ditambahkan untuk memperkuat output yang dihasilkan. Berdasarkan sampel, pegawai Setditjen Binapenta dan PKK memiliki sikap untuk saling berbagi pengetahuan yang dibuktikan dengan hasil rata-rata penilaian kesiapan dalam penerapan manajemen pengetahuan yaitu 3,82 dari skala 1 - 5. Nilai tersebut menunjukkan bahwa Setditjen Binapenta dan PKK telah siap untuk mengimplementasikan manajemen pengetahuan, namun masih perlu melakukan beberapa perbaikan.