digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pada tahun 2003 metoda earned schedule muncul sebagai penyempurna metoda earned value. Jika earned value adalah nilai yang didapatkan dari progress fisik proyek dilapangan, maka earned schedule adalah waktu yang seharusnya dilewati proyek yang telat dari planned value. Schedule variance sebagai indikator kinerja proyek lebih mudah dipahami dalam dimensi waktu pada earned schedule daripada dimensi biaya pada earned value. Kontraktor di Indonesia ditengarai belum ada yang menggunakan metoda earned schedule. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa hambatan penerapan metoda earned schedule oleh kontraktor. Hambatan penerapan earned schedule dilakukan dengan mengetahui dua komponen penting yakni pengalaman penerapan earned value dan kriteriapenerapan earned schedule. Agar dapat diimplementasikan, maka kontraktor yang akan menerapkan earned schedule tentu harus pernah menerapkan earned value. Perhitungan earned schedule hampir sama dengan earned value. Selain itu tidak dibutuhkan data tambahan dalam menerapkan earned schedule. Untuk itu, Kriteria earned schedule ini diambil seluruhnya dari kriteria earned value berdasarkan ANSI/EIA 748. Pada pengalaman penerapan earned value ditelusuri mengenai hambatan awal, pengimplementasian, dan masalah penerapannya. Pada kriteria berdasarkan ANSI/EIA ditelusuri dari lima aspek yaitu organisasi, perencanaan penjadwalan dan penganggaran, sistem