Peningkatan permintaan supermarket akan produk pertanian segar berdampak pada penambahan saluran pasar di tingkat petani, salah satunya terjadi pada petani strawberi yang tergabung dalam asosiasi Asgita. Sebelum adanya
permintaan dari supermarket, para petani menjual strawberi ke pasar tradisional dengan kematangan 75% dan tanpa melakukan pengolahan pasca panen.
Sementara itu permintaan supermarket mensyaratkan kematangan 90% yang memerlukan rentang hari antar panen yang lebih panjang, dan juga memerlukan aktivitas pasca panen yang terdiri dari sortasi, grading, pengemasan dan
pendinginan. Penjualan ke supermarket lebih menguntungkan dari pada ke pasar tradisional, tetapi permintaannya sangat terbatas dan resikonya lebih besar. Dalam pemenuhan permintaan supermarket, sering terjadinya kekurangan dan kelebihan volume strawberi pada setiap jadwal pengiriman, karena jadwal panen lahan
masih dilakukan oleh masing-masing petani tanpa adanya koordinasi. Jika terjadi kekurangan maka akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar, sementara jika terjadi kelebihan walaupun dapat disimpan tetapi waktunya sangat terbatas yaitu hanya dua hari.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model penentuan jadwal panen strawberi kematangan 90% untuk memenuhi pasokan supermarket dan kematangan 75% untuk penjualan ke pasar tradisional, yang dapat memaksimalkan keuntungan. Pengembangan model didasarkan pada model penjadwalan panen tebu yang dikembangan oleh Grunow, et.al (2007). Untuk perencanaan panen yang panjang dan kondisi yang dinamis maka digunakan pendekatan penjadwalan bergulir (rolling scheduling). Hasil perhitungan menunjukan bahwa, model yang dikembangkan dapat menentukan waktu panen tiap blok lahan untuk kematangan 75% atau 90%, yang dapat memaksimalkan
keuntungan. Akan tetapi untuk perencanaan yang panjang, pendekatan jadwal bergulir hanya memberikan hasil yang mendekati optimal. Hasil dari analisis sensistifitas didapatkan, dengan meningkatnya volume permintaan supermarket, volume panen 90% semakin besar karena keuntungannya lebih tinggi. Pada analisis perbedaan harga, pada saat harga supermarket berbeda 11,000 dari harga pasar tradisional, maka panen hanya dijadwalkan untuk kematangan 75% karena keuntungannya lebih tinggi. Sementara itu untuk perubahan proporsi buah lolos sortasi menunjukan, semakin tinggi proporsi yang lolos sortasi maka keuntungan yang didapat semakin besar.
Perpustakaan Digital ITB