Article Details

EFEK KEKAKUAN KOPLING TERHADAP GRAFIK ORDER TRACKING MAGNITUDO DAN FASA MODEL SISTEM POROS ROTOR SEDERHANA

Oleh   Jack Dhamma Wijaya [13118022]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Ir. Zainal Abidin, Ph.D.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : Teknik Mesin
Fakultas : Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara
Subjek :
Kata Kunci : ketidaksesumbuan, magnitudo, fasa
Sumber :
Staf Input/Edit : Erlin Marliana Effendi  
File : 1 file
Tanggal Input : 20 Sep 2022

Kerusakan mesin akibat ketidaksesumbuan masih banyak dijumpai di industri. Hal ini karena pemahaman tentang karakteristik getaran akibat ketidaksesumbuan belum dipahami dengan baik. Padahal, karakteristik getaran yang terjadi akibat ketidaksesumbuan poros sangat bergantung pada nilai kekakuan kopling yang digunakan. Oleh karena itu, diperlukan penelitian untuk mempelajari pengaruh nilai kekakuan kopling terhadap magnitudo dan fasa getaran yang dihasilkan akibat ketidaksesumbuan dua buah poros. Dalam penelitian ini, dua sistem poros yang dihubungkan dengan kopling dimodelkan sebagai sistem dua derajat kebebasan. Model ini selanjutnya disimulasikan secara numerik dengan parameter yang diperoleh dengan analisis modal. Selama simulasi, nilai kekakuan kopling divariasikan. Untuk menghindari kesalahan, mula-mula hasil numerik akan divalidasi dengan solusi analitik untuk kasus khusus, yaitu ketika nilai kekakuan kopling nol. Setelah itu, simulasi numerik dilanjutkan untuk model yang diberi gaya pengeksitasi dengan frekuensi 1XRPM serta gaya pengeksitasi yang memiliki frekuensi kombinasi dari 1X dan 2XRPM. Hasil simulasi ditampilkan sebagai peta spektrum dan grafik lacakan orde, baik magnitudo maupun fasa untuk masing-masing gaya pengeksitasi. Berdasarkan hasil simulasi yang diperoleh, dapat ditunjukkan pengaruh variasi nilai kekakuan kopling terhadap magnitudo dan fasa getaran yang terjadi. Hasil simulasi tersebut menunjukkan bahwa nilai magnitudo pada frekuensi puncak pertama dan kedua akan mengecil seiring dengan kenaikan nilai kekakuan kopling. Selain itu, sudut fasa simpangan pada frekuensi puncak pertama selalu bernilai lebih kecil daripada -90° dan mengecil seiring dengan kenaikan nilai kekakuan kopling. Di sisi lain, sudut fasa simpangan pada frekuensi puncak kedua cenderung mendekati -270° seiring dengan kenaikan nilai kekakuan kopling