Article Details

ANALISIS INVESTASI LAYANAN PURNA JUAL SEPEDA MOTOR RESMI (STUDI KASUS: CV. BERKAH JAYA)

Oleh   Harry Djaja Saputra [29118527]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Taufik Faturohman, S.T., MBA, Ph.D.
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : Magister Bisnis dan Administrasi - Teknologi
Fakultas : Sekolah Bisnis dan Manajemen
Subjek : General management
Kata Kunci : bengkel, sepeda motor, layanan purna jual, AHASS, feasibility
Sumber :
Staf Input/Edit : Yose Ali Rahman  
File : 1 file
Tanggal Input : 19 Sep 2022

Transportasi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Indonesia sebagai negara berkembang merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 di dunia dengan jumlah penduduk sekitar 270 juta jiwa dan laju pertumbuhan penduduk sekitar 1,25 persen dari 10 tahun terakhir, serta pengguna utama sepeda motor sebagai alat transportasi utama karena harganya yang terjangkau. , lebih cepat, mobilitas lebih tinggi, dan transportasi umum di Indonesia masih belum dapat diakses dan tersedia di beberapa bagian negara. Hal ini menyebabkan tingginya permintaan sepeda motor sebagai alat transportasi di Indonesia yang menjadikan Indonesia menempati peringkat 3 di dunia dalam penjualan sepeda motor selama hampir 20 tahun dan berdasarkan data AISI (Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia), hampir 6 juta sepeda motor terjual setiap tahunnya dari tahun 2015 hingga 2019 . Dengan banyaknya jumlah sepeda motor di Indonesia, maka diperlukan juga layanan purna jual yang memadai karena merupakan satu paket yang tidak dapat dipisahkan dari penjualan. Seiring dengan meningkatnya populasi dan permintaan sepeda motor, diperkirakan sepeda motor akan selalu meningkat untuk beberapa tahun ke depan dan hal tersebut membuat bisnis sepeda motor menjadi peluang yang menjanjikan tidak hanya dalam penjualan tetapi juga untuk layanan purna jual. CV Berkah Jaya aalah salah satu perusahaan layanan purna jual sepeda motor resmi yang sedang mempertimbangkan untuk memperluas layanannya dari peluang yang ada. CV. Berkah Jaya adalah sebuah perusahaan keluarga swasta yang bergerak pada dua bidang yaitu bisnis perdagangan dan layanan purna jual sepeda motor resmi untuk merek sepeda motor Honda. Perusahaan telah menjalankan bisnis layanan purna jual sepeda motor merek Honda atau biasa disebut AHASS selama hampir 10 tahun di Lembang, Jawa Barat dan akan menyelesaikan pinjaman investasi 7 tahun pada akhir 2020. Pada saat pinjaman tersebut lunnas, perusahaan diharapkan untuk memperluas bisnis dengan mendirikan layanan purna jual di daerah lain karena jumlah pertumbuhan unit entry hanya rata-rata sekitar 0,33 persen untuk setiap tahun. Hal ini berbanding terbalik dengan pertumbuhan sepeda motor di Indonesia yang rata-rata sekitar 5,98 persen per tahun (AISI, 2020). Dari pengamatan perusahaan, hal ini disebabkan oleh situasi ekonomi lokasi usaha saat ini yang sulit untuk berkembang. Hal inilah yang menjadikan mencari lokasi lain untuk membuka layanan purna jual sepeda motor baru khususnya di daerah perkotaan yang sedang berkembang menjadi peluang besar untuk memaksimalkan keuntungan perusahaan. Oleh karena itu, penting untuk menilai kelayakan proyek perluasan. Penelitian ini akan menganalisis kelayakan secara finansial dari proyek ekspansi CV. Berkah Jaya Proyek. Hasil dari proyek ini akan menjadi pedoman untuk kelanjutan proyek tersebut. Analisi dilakukan dengan menggunakan teknik capital budgeting disertai dengan analisis eksternal dan internal. Analisis eksternal yang digunakan adalah analisis PEST dan Porter 5 Forces dan untuk analisis internal menggunakan analisis sumber daya dan kapabilitas. Hasil analisis eksternal dan internal menunjukkan bahwa perusahaan masih mampu mengembangkan usahanya. Dengan investasi perusahaan untuk bengkel baru yang menggunakan 73,15% dari modal yang dibutuhkan dan sisanya didapat dengan menggunakan hutang jangka panjang selama 10 tahun, proyek ini akan menghasilkan NPV sebesar Rp 38.487.794.045,22 dan IRR 49,25% dengan periode pengembalian 4 tahun 1 bulan, artinya proyek investasi akan meningkatkan nilai perusahaan pada akhir proyek dan tidak ada masalah dari payback period. Ada beberapa variabel yang dapat mempengaruhi kelayakan proyek jika nilainya berubah sehingga perusahaan perlu mengawasi beberapa indikator seperti harga rata-rata penjualan per unit, diikuti oleh biaya bahan baku, target unit entry, biaya tenaga kerja langsung dan pertumbuhan unit entry. Dengan menggunakan simulasi Monte Carlo, proyek memiliki risiko gagal dengan probabilitas nilai NPV proyek di bawah nol adalah 30,41% dan probabilitas NPV 60,39% lebih tinggi dari 0 atau positif. Proyek ini juga memiliki peluang 47,10% untuk menciptakan nilai lebih dari nilai awal dari skenario nilai dasar.