Artikel Terbaru

PENGARUH KULTUR MURNI BACILLUS CLAUSII DAN KULTUR CAMPURAN TERHADAP PEMBENTUKAN BIOFILM, KOROSI BAJA KARBON, DAN DEGRADASI HIDROKARBON PADA SISTEM PENYIMPANAN B30

Oleh   Christian Aslan [23019017]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Ardiyan Harimawan, S.T., M.Eng., Ph.D.;Hary Devianto, S.T., M.Eng., Ph.D.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : FTI - Teknik Kimia
Fakultas : Fakultas Teknologi Industri (FTI)
Subjek :
Kata Kunci : Bacillus clausii, baja karbon, biodiesel, biofilm, biokorosi, kultur campuran
Sumber :
Staf Input/Edit : Budi Cahyadi  
File : 6 file
Tanggal Input : 2021-10-13 10:39:12

Biodiesel merupakan produk bahan bakar nabati terbarukan yang lebih ramah lingkungan. Saat ini, biodiesel digunakan di Indonesia sebagai diesel blend dengan komposisi 30%-v biodiesel dan 70%-v petrodiesel (B30), sesuai dengan Program Mandatori Biodiesel. Namun, biodiesel memiliki kelemahan yaitu lebih higroskopis, mudah didegradasi, dan bersifat lebih polar. Hal ini menyebabkan terjadinya peristiwa korosi yang dipercepat oleh mikroorganisme, yang disebut sebagai biokorosi atau Microbiologically Influenced Corrosion (MIC). Peristiwa MIC ini dapat terjadi pada sistem penyimpanan diesel blend. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan pengaruh mikroorganisme terhadap pembentukan biofilm, korosi baja karbon, dan degradasi hidrokarbon pada sistem penyimpanan B30. Mikroorganisme yang digunakan adalah isolat kultur murni Bacillus clausii dan isolat kultur campuran yang berasal dari biofilm pada baja karbon yang direndam dalam B30. Hasil dari penelitian ini adalah laju korosi baja karbon lebih tinggi pada kondisi ditumbuhi mikroorganisme, terutama kultur campuran dibandingkan B. clausii. Selain itu, perubahan bilangan asam total B30 juga lebih tinggi pada kondisi ditumbuhi mikroorganisme, dengan kultur campuran lebih tinggi daripada B. clausii. Proses MIC yang terjadi pada kultur campuran lebih kompleks, yang meliputi reaksi anodik dan katodik, korosi oleh H2S, konsumsi elektron secara langsung, produksi enzim hidrogenase, interaksi IOB dan IRB, korosi oleh Fe2+, produksi asam organik, dan produksi EPS. Sementara itu, MIC pada kultur murni B. clausii yang dominan hanya meliputi reaksi anodik dan katodik, produksi asam organik, dan produksi EPS. Jika ditinjau dari material baja karbon, material baja karbon memiliki ketahanan relatif terhadap korosi yang sangat baik, karena laju korosi seragam baja karbon dalam sistem penyimpanan B30 di bagian fasa minyak dengan dan tanpa mikroorganisme sangatlah rendah, sehingga waktu kerusakan tangki diestimasikan sangat lama. Namun, bahaya dari serangan korosi sumuran serta korosi pada interfasa minyak-air juga perlu diperhatikan.