Article Details

OPTIMASI PERTUMBUHAN TANAMAN SELADA (LACTUCA SATIVA L.) VARIETAS KERITING HIJAU DAN ROMAINE PADA SISTEM AEROPONIK

Oleh   Trisekar Akbar Pamungkas [11416051]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Sri Nanan B. Widiyanto, Ph.D.;Dr. Ir. Eri Mustari, M.P.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : SITH - Rekayasa Pertanian
Fakultas : Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH)
Subjek :
Kata Kunci : Aeroponik, interval semprot, konsentrasi, , larutan nutrisi, pencahayaan selada keriting hijau, selada romaine.
Sumber :
Staf Input/Edit : Irwan Sofiyan  
File : 1 file
Tanggal Input : 2020-09-29 16:47:21

Generic placeholder image
ABSTRAK Trisekar Akbar Pamungkas

Terbatas
» ITB


Permintaan yang tinggi di pasaran menjadikan selada sebagai komoditas sayuran yang memiliki nilai ekonomi tinggi, sehingga dapat membantu masyarakat khususnya petani dalam meningkatkan pendapatannya. Tercatat bahwa produksi tanaman selada dalam negeri dari tahun 2010 hingga 2013 sebesar 283.770 ton, 280.969 ton, 294.934 ton dan 300.961 ton. Sempat terjadi penurunan produksi selada yaitu pada tahun 2011. Hal ini disebabkan adanya alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman dan pabrik. Aeroponik merupakan teknik budidaya tanaman yang membiarkan tanaman menggantung diudara dengan menyemprotkan larutan nutrisi secara langsung ke akar tanaman. Sistem penyemprotan larutan nutrisi pada aeroponik dapat dimodifikasi secara otomatis sehingga dapat membuat larutan nutrisi menyemprot sesuai dengan waktu yang ditentukan. Selain itu, pencahayaan pada sistem aeroponik dapat dikendalikan secara otomatis sehingga tanaman yang dibudidayakan dapat menyerap cahaya dengan baik. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengoptimasi faktor pemberian nutrisi dan interval semprot larutan nutrisi terhadap pertumbuhan tanaman selada (Lactuca sativa L.) varietas keriting hijau dan romaine yang dikulturkan pada sistem aeroponik. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan kombinasi yang terdiri dari varietas tanaman selada (selada keriting hijau dan selada roamine), konsentrasi (3 mL/L, 5 mL/L, 7 mL/L) dan interval semprot larutan nutrisi (3 menit tidak menyemprot, 5 menit tidak menyemprot, 7 tidak menyemprot) dengan 2 ulangan. Parameter yang diamati terdiri dari jumlah daun, tinggi batang, panjang akar, bobot basah tajuk dan bobot kering tajuk. Data dari hasil pengamatan dianalisis dengan uji ANOVA dengan taraf nyata 5% kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan menggunakan software SPSS. Pemberian konsentrasi larutan nutrisi sebanyak 5 ml/L dan interval semprot 2 menit menyemprot 5 menit tidak menyemprot menghasilkan tinggi batang tertinggi yaitu 25,181 cm dan 25,088 cm, bobot basah tajuk terberat yaitu 17,386 gram dan 12,949 gram serta bobot kering tajuk terberat 0,979 gram dan 0,659 gram untuk tanaman selada keriting hijau dan selada romaine secara berurutan. Namun parameter jumlah daun terbanyak hanya selada keriting hijau yaitu 11,860 helai daun. Pemberian konsentrasi larutan nutrisi sebanyak 3 ml/L dan interval semprot larutan nutrisi 2 menit menyemprot 3 menit tidak menyemprot memberikan panjang akar terpanjang untuk tanaman selada keriting hijau dan selada romaine yaitu 46,038 cm dan 46,231 cm serta jumlah daun terbanyak untuk selada romaine yaitu 9,090 helai. Sehingga pemberian konsentrasi dan interval semprot larutan nutrisi yang optimum adalah 5 ml/L dan 2 menit menyemprot 5 menit tidak menyemprot.