digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Perkembangan sarana transportasi menuntut kecepatan akses baik itu berupa jalan tol maupun jalur kereta api. Kecepatan akses ini menuntut bentuk geometri jalan dan jalur kereta yang lebih landai dan lurus secara alinemen horizontal maupun vertikal. Sehinga pada wilayah perbukitan diperlukan struktur terowongan yang menembus bukit. Konstruksi terowongan di daerah Jawa Barat dihadapkan pada tantangan baru yaitu formasi clayshale. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan klasifikasi tanah clayshale di Jawa Barat serta implikasinya pada stabilitas terowongan dalam kondisi short term dan long term dengan program finite element Plaxis. Data sekunder dari proyek di Jawa Barat yang terdapat clayshale, berupa data penyelidikan lapangan dan laboratorium dikumpulkan dan dianalisa. Didapatkan bahwa clayshale tersebar pada 4 Formasi batuan dari yang termuda ke tertua yaitu Formasi Cihoe (Tpc), Formasi Subang (Tms), Formasi Cantayan (Mtts/Mttc), dan Formasi Jatiluhur (Tmj). Setiap formasi memiliki properti mechanical dan engineering yang cukup berbeda. Usulan identifikasi tingkat pelapukan clayshale pada Formasi Cihoe yaitu N-SPT < 40 Fully Weathered, NSPT 40-60 Highly Weathered to Moderately Weathered, dan N-SPT > 60 Slighly Weathered to Unweathered. Usulan identifikasi tingkat pelapukan clayshale pada Formasi Subang yaitu N-SPT <60 Fully Weathered dan N-SPT >60 Highly Weathered to Unweathered. Analisa Plaxis dengan model MC menghasilkan deformasi puncak terowongan lebih kecil, surface deformation lebih kecil, effective stress lebih besar, dan excess pore water pressure lebih besar dibandingkan dengan model HS. Stabilitas long term lebih rendah dari short term namun deformasi during construction adalah yang paling dominan karena pertambahan deformasi kondisi long term relatif kecil.