Perkembangan sarana transportasi menuntut kecepatan akses baik itu berupa jalan
tol maupun jalur kereta api. Kecepatan akses ini menuntut bentuk geometri jalan
dan jalur kereta yang lebih landai dan lurus secara alinemen horizontal maupun
vertikal. Sehinga pada wilayah perbukitan diperlukan struktur terowongan yang
menembus bukit. Konstruksi terowongan di daerah Jawa Barat dihadapkan pada
tantangan baru yaitu formasi clayshale. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
karakteristik dan klasifikasi tanah clayshale di Jawa Barat serta implikasinya pada
stabilitas terowongan dalam kondisi short term dan long term dengan program finite
element Plaxis. Data sekunder dari proyek di Jawa Barat yang terdapat clayshale,
berupa data penyelidikan lapangan dan laboratorium dikumpulkan dan dianalisa.
Didapatkan bahwa clayshale tersebar pada 4 Formasi batuan dari yang termuda ke
tertua yaitu Formasi Cihoe (Tpc), Formasi Subang (Tms), Formasi Cantayan
(Mtts/Mttc), dan Formasi Jatiluhur (Tmj). Setiap formasi memiliki properti
mechanical dan engineering yang cukup berbeda. Usulan identifikasi tingkat
pelapukan clayshale pada Formasi Cihoe yaitu N-SPT < 40 Fully Weathered, NSPT
40-60 Highly Weathered to Moderately Weathered, dan N-SPT > 60 Slighly
Weathered to Unweathered. Usulan identifikasi tingkat pelapukan clayshale pada
Formasi Subang yaitu N-SPT <60 Fully Weathered dan N-SPT >60 Highly
Weathered to Unweathered. Analisa Plaxis dengan model MC menghasilkan
deformasi puncak terowongan lebih kecil, surface deformation lebih kecil, effective
stress lebih besar, dan excess pore water pressure lebih besar dibandingkan dengan
model HS. Stabilitas long term lebih rendah dari short term namun deformasi
during construction adalah yang paling dominan karena pertambahan deformasi
kondisi long term relatif kecil.
Perpustakaan Digital ITB