Article Details

POTENSI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN BIOENERGI DALAM MENDUKUNG MITIGASI PERUBAHAN IKLIM KAWASAN PERKOTAAN CEKUNGAN BANDUNG (STUDI KASUS: POHON KALIANDRA)

Oleh   Mega Senoputri [25418060]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Niken Prilandita, S.T., M.Sc.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : SAPPK - Perencanaan Wilayah dan Kota
Fakultas : Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK)
Subjek :
Kata Kunci : Bioenergi, Life Cycle Assessment (LCA), Mitigasi Perubahan Iklim
Sumber :
Staf Input/Edit : Yoninur Almira  
File : 1 file
Tanggal Input : 2020-03-17 15:40:28

Konsumsi energi global yang meningkat pesat turut berkontribusi terhadap perubahan iklim karena menjadi salah satu kontributor utama dari emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dunia. Pemanfaatan bioenergi dilakukan sebagai solusi untuk mengurangi emisi GRK dari sektor energi. Namun demikian, isu persaingan lahan dengan tanaman pangan (food vs fuel) dan kemungkinan emisi tambahan dari proses produksi dan distribusi masih menjadi perdebatan dalam pengembangan dan penggunaan bioenergi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyusun strategi pengembangan bioenergi rendah emisi karbon pada lahan marginal (kritis) di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung. Lahan kritis di kawasan perkotaan diharapkan berpotensi untuk budidaya tanaman energi berdasarkan hipotesis bahwa budidaya tanaman energi di lahan kritis memiliki risiko persaingan lahan yang minimum, serta pengembangan bioenergi di kawasan perkotaan dapat mengurangi emisi GRK dari proses produksi. Ruang lingkup wilayah pada penelitian difokuskan pada Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung (KPCB). Jenis bioenergi yang dipilih adalah pelet kayu dari pohon jenis Kaliandra (Calliandra calothyrsus). Berdasarkan hasil analisis spasial dalam penelitian ini, sebagian besar lahan kritis di KPCB memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai hutan energi Kaliandra. Pemanfaatan maksimum diperoleh dengan turut memanfaatkan lahan kritis yang termasuk zona budidaya pertanian (B4), zona hutan produksi (B6), dan zona hutan lindung (L1) dengan memanfaatan terbatas. Luas wilayah yang paling memungkinkan untuk dikembangkan sebagai hutan energi adalah tapak di Kab. Bandung Barat dan Kab. Bandung yang termasukii ke dalam area rencana Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL). Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dari kegiatan produksi bioenergi dari hutan energi Kaliandra di KPCB dianalisis berdasarkan metode Life Cycle Assessment (LCA). Berdasarkan analisis LCA tersebut, proses produksi listrik dari biomassa kayu Kaliandra lebih banyak menyerap karbon dibandingkan mengemisikan GRK apabila dioperasikan lebih dari 8,08 tahun. Penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) Kaliandra dapat mendukung kegiatan aksi mitigasi dalam RAD GRK Provinsi Jawa Barat dengan meningkatkan potensi penurunan emisi GRK dari sub sektor pengadaan dan penggunaan energi dari 7,99% menjadi 8,62%. Strategi yang dilakukan untuk mendukung pengembangan bioenergi dari biomassa kayu Kaliandra adalah melalui perumusan kebijakan energi yang mengutamakan aspek perubahan iklim, menerapkan instrumen keuangan yang mendorong peralihan dari sistem energi berbasis bahan bakar fosil menjadi berbasis bioenergi, serta mengoptimalkan peran pemerintah daerah dalam penyediaan energi pada level lokal secara mandiri, rendah emisi, dan berdampak positif terhadap ekonomi masyarakat lokal