Article Details

KAJIAN BAHAYA TSUNAMI KABUPATEN PANDEGLANG BERDASARKAN SIMULASI NUMERIK TSUNAMI SELAT SUNDA 2018 DENGAN PEMBANGKIT LONGSOR BAWAH LAUT

Oleh   Kholillah Yudicia Isnaeni [12915039]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr.Eng. Hamzah Latief, M.Si.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : FITB - Oseanografi
Fakultas : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
Subjek :
Kata Kunci : bahaya tsunami, Tsunami Selat Sunda, longsor bawah laut, Kabupaten Pandeglang, COMCOT
Sumber :
Staf Input/Edit : Irwan Sofiyan  
File : 1 file
Tanggal Input : 2020-01-07 11:31:17

Generic placeholder image
ABSTRAK Kholillah Yudicia Isnaeni

Terbatas
» ITB


Kejadian Tsunami Selat Sunda 22 Desember 2018 sampai saat ini masih diperdebatkan mekanisme pembangkitannya, sehingga perlu dilakukan simulasi numerik tsunami Selat Sunda dengan beberapa mekanisme, salah satunya dengan pembangkit longsor bawah laut. Simulasi numerik tsunami dengan pembangkit longsor bawah laut tersebut telah diteliti menggunakan model COMCOT (Cornell Multi-grid Coupled Tsunami Model) dengan persamaan NSWE (Non-linear Shallow Water Equations) dan domain bersarang hingga domain level 4. Data batimetri yang digunakan dari BATNAS dan data topografi dari Peta RBI 1:25.000. Skenario yang disimulasikan berjumlah 14 skenario dengan perbedaan dari tiap skenario yang digunakan terletak pada volume longsoran yang dipakai, sudut bidang longsor, titik awal dan akhir longsor, serta durasi longsor. Validasi model menggunakan data survei lapangan yang berupa data tinggi tsunami dan jarak rendaman serta data stasiun pengukuran pasang surut yang terdiri dari data tinggi tsunami dan waktu tiba gelombang tsunami. Kajian bahaya tsunami yang dilakukan menggunakan parameter bahaya berupa tinggi tsunami dan mencakup daerah Kabupaten Pandeglang. Hasil simulasi numerik tsunami dengan pembangkit longsor bawah laut menunjukkan gejala gelombang berupa puncak terlebih dahulu yang selanjutnya disusul dengan lembah. Dari 14 skenario yang disimulasikan terdapat 7 skenario dengan galat 5% (bilangan Aida yang mendekati 1), 1 skenario dengan galat >20%, dan 6 skenario dengan galat 20%. Gelombang tsunami mencapai pesisir Lampung setelah 1 jam terjadi tsunami dan mencapai pesisir Banten pada menit ke 55 setelah terjadinya tsunami. Daerah terdampak terparah dengan klasifikasi sangat berbahaya (tinggi gelombang yang menghantam >3 m) berdasarkan hasil kajian bahaya tinggi tsunami berada pada daerah Pulau Panaitan, Ujungkulon, dan Tanjung Lesung. Sedangkan untuk daerah yang tidak terdampak gelombang tsunami adalah daerah Cikawung, dan daerah Citeureup hingga Patia.