Article Details

ANALISIS EVALUASI FUNGSIONAL DAN STRUKTURAL PERKERASAN LENTUR DENGAN METODE AUSTROADS 2011 (Studi Kasus : Jalan Nasional Bandung-Purwakarta KM 19+000 – KM 24+000 dan KM 27+000 – KM 31+400)

Oleh   M. SENO SAPUTRO 26911329
Kontributor / Dosen Pembimbing : Pembimbing : Dr. Eri Susanto Hariadi, ST, MT ; Prof. Dr. Ir. Bambang Sugeng S. DEA
Jenis Koleksi : Anggota
Penerbit :
Fakultas :
Subjek :
Kata Kunci : Austroads 2011, lendutan, roughness, prosedur mekanistik, overlay ; Austroads 2011, deflection, roughness, general mechanistic procedure, overlay
Sumber :
Staf Input/Edit : hidayat  
File : 8 file
Tanggal Input : 2018-10-22 13:33:10

Untuk menjaga tingkat pelayanan suatu jalan dibutuhkan suatu metode evaluasi yang tepat baik itu evaluasi struktural maupun fungsional. Pada saat ini, metode yang ada di Indonesia tidak dapat digunakan untuk menilai apakah lapis tambah akan mengalami retak lelah. Metode Austroads 2011 adalah salah satu metode yang menjadi acuan di Indonesia dimana metode ini telah mengakomodasi ketahanan terhadap kriteria retak lelah (fatigue). Oleh sebab itu dibutuhkan suatu penelitian terhadap Metode Austroads 2011 dengan tujuan apakah metode ini dapat diterapkan di Indonesia. Evaluasi struktural dilakukan berdasarkan data lendutan dari alat FWD (Falling Weight Deflectograph) menggunakan Metode Austroads 2011 versi prosedur Mekanistik dengan outputnya berupa beban yang diijinkan (allowable repetition) baik untuk kriteria retak lelah maupun kriteria deformasi permanen. Dalam analisis kondisi struktural dibuat 5 jenis pemodelan dengan tujuan untuk mengetahui jenis material apa yang memberikan pengaruh paling besar terhadap tebal lapis tambah dan bagaimana pengaruh jumlah lapisan terhadap tebal lapis tambah. Sedangkan evaluasi fungsional dilakukan berdasarkan data roughness dari alat NAASRA dengan outputnya berupa nilai IRI (International Roughness Index), untuk menentukan apakah perkerasan dalam kondisi baik atau rusak secara fungsional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa material aspal lama memberikan pengaruh yang paling besar sedangkan material berbutir cukup memberikan pengaruh dan banyaknya lapisan dalam suatu pemodelan kurang memberikan pengaruh Terhadap tebal lapis tambah. Selain itu dari analisis lalu lintas menunjukkan nilai DSAR7 dengan Metode Austroads 2011 cukup identik dengan nilai CESAL yang dihasilkan oleh Metode Bina Marga. Untuk analisis fungsional, 63,5% segmen 1 dalam kondisi baik dan 36,5% dalam kondisi rusak, sedangkan 84,4% segmen 2 dalam kondisi baik dan 15,6% dalam kondisi rusak. Penerapan Metode Austroads 2011 untuk kondisi jalan di Indonesia perlu mempertimbangkan beberapa hal yaitu: pemodelan struktur perkerasan, pembagian jenis kendaraan, nilai-nilai “presumtif” dalam Metode Austroads 2011 untuk penentuan jumlah lalu lintas rencana, sifat material, proses pengukuran lendutan dan nilai IRI.