digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK VALUASI EKONOMI EKSTERNALITAS SEBAGAI DASAR PERUMUSAN STRATEGI PENGELOLAAN PERSAMPAHAN DI TEMPAT PEMROSESAN AKHIR (TPA) BANTARGEBANG, KOTA BEKASI Oleh Nabila Suci Annisa NIM 25725033 Program Studi Pengelolaan Infrastruktur Air Bersih dan Sanitasi TPA Bantargebang merupakan fasilitas pemrosesan akhir sampah terbesar di Indonesia yang menerima rata-rata 7.503 ton sampah per hari dari Provinsi DKI Jakarta, dengan ketinggian timbunan aktif hampir mencapai 50 meter. Skala operasi tersebut menimbulkan eksternalitas negatif terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar, sekaligus eksternalitas positif melalui penyerapan tenaga kerja sektor informal. Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi aktivitas pengelolaan sampah di TPA Bantargebang; (2) menghitung besaran eksternalitas dan Nilai Ekonomi Total (Total Economic Value/TEV) melalui pendekatan valuasi ekonomi lingkungan; serta (3) merumuskan strategi pengelolaan sampah yang terpadu, berkeadilan, dan berkelanjutan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif-deskriptif dengan data primer dari survei kuesioner terhadap 100 responden masyarakat dan 30 responden pemulung, wawancara, dan observasi lapangan, ditunjang data sekunder dari dokumen lingkungan dan hasil uji laboratorium. Valuasi dilakukan dengan metode Cost of Illness (COI), Replacement Cost (RC), Damage Cost (DC), Willingness to Accept (WTA), dan Income Approach. Dampak yang teridentifikasi meliputi pencemaran udara, pencemaran air tanah akibat rembesan lindi, peningkatan vektor penyakit, serta gangguan kesehatan yang didominasi ISPA (98%) dan diare (50%). Total eksternalitas negatif mencapai Rp322,94 miliar per tahun, didominasi kerugian emisi metana (52,7%) dan biaya penggantian air bersih (36,6%). Dengan eksternalitas positif Rp274,751 miliar per tahun, TEV bernilai - Rp48,19 miliar per tahun, menandakan eksternalitas negatif belum sepenuhnya terinternalisasi. Analisis IFAS-EFAS menghasilkan koordinat (0,77; -0,02) pada kuadran II, sehingga strategi yang diprioritaskan adalah Strength-Threat (ST).