digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan global akibat meningkatnya kasus resistensi terhadap obat antituberkulosis. Pemanfaatan bahan alam sebagai alternatif terapi menjadi salah satu strategi yang dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas pengobatan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi aktivitas antimikobakterium ekstrak etanol daun (DBW) dan buah (BBW) belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) serta ekstrak etanol daun (DBM) dan buah (BBM) belimbing manis (Averrhoa carambola) terhadap Mycobacterium smegmatis, mengevaluasi interaksinya dengan rifampisin dan isoniazid, serta mengkaji mekanisme kerja melalui uji kebocoran asam nukleat dan pengamatan morfologi sel. Ekstrak diperoleh dengan metode maserasi menggunakan etanol 70%. Aktivitas antimikobakterium ditentukan menggunakan metode mikrodilusi dan resazurin microtiter assay (REMA), sedangkan interaksi kombinasi dengan antibiotik dievaluasi menggunakan metode checkerboard dan perhitungan fractional inhibitory concentration index (FICI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak daun belimbing wuluh dan daun belimbing manis sebesar 5.000 µg/mL. Kombinasi ekstrak daun belimbing wuluh dengan rifampisin menunjukkan nilai FICI sebesar 0,79 sedangkan kombinasi ekstrak daun belimbing manis dengan rifampisin menunjukkan nilai FICIsebesar 0,73. Uji kebocoran asam nukleat menunjukkan peningkatan pelepasan komponen intraseluler setelah pemberian ekstrak DBW, DBM dan kombinasinya dengan rifampisin/isoniazid. Pengamatan menggunakan scanning electron microscopy (SEM) menunjukkan perubahan morfologi permukaan sel bakteri setelah pemberian DBW, DBM dan kombinasinya dengan rifampisin/isoniazid. Ekstrak DBW, DBM dan kombinasinya dengan antibiotik memiliki aktivitas antimikobakterium. Interaksi DBW dan DBM dengan rifampisin menunjukkan efek aditif. Mekanisme kerja DBW dan DBM diduga berkaitan dengan gangguan pada integritas struktur dinding sel bakteri.