Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan global akibat meningkatnya kasus resistensi
terhadap obat antituberkulosis. Pemanfaatan bahan alam sebagai alternatif terapi menjadi salah
satu strategi yang dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas pengobatan. Penelitian ini
bertujuan mengevaluasi aktivitas antimikobakterium ekstrak etanol daun (DBW) dan buah (BBW)
belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) serta ekstrak etanol daun (DBM) dan buah (BBM) belimbing
manis (Averrhoa carambola) terhadap Mycobacterium smegmatis, mengevaluasi interaksinya
dengan rifampisin dan isoniazid, serta mengkaji mekanisme kerja melalui uji kebocoran asam
nukleat dan pengamatan morfologi sel. Ekstrak diperoleh dengan metode maserasi menggunakan
etanol 70%. Aktivitas antimikobakterium ditentukan menggunakan metode mikrodilusi dan
resazurin microtiter assay (REMA), sedangkan interaksi kombinasi dengan antibiotik dievaluasi
menggunakan metode checkerboard dan perhitungan fractional inhibitory concentration index
(FICI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak daun
belimbing wuluh dan daun belimbing manis sebesar 5.000 µg/mL. Kombinasi ekstrak daun
belimbing wuluh dengan rifampisin menunjukkan nilai FICI sebesar 0,79 sedangkan kombinasi
ekstrak daun belimbing manis dengan rifampisin menunjukkan nilai FICIsebesar 0,73. Uji kebocoran
asam nukleat menunjukkan peningkatan pelepasan komponen intraseluler setelah pemberian
ekstrak DBW, DBM dan kombinasinya dengan rifampisin/isoniazid. Pengamatan menggunakan
scanning electron microscopy (SEM) menunjukkan perubahan morfologi permukaan sel bakteri
setelah pemberian DBW, DBM dan kombinasinya dengan rifampisin/isoniazid. Ekstrak DBW, DBM
dan kombinasinya dengan antibiotik memiliki aktivitas antimikobakterium. Interaksi DBW dan DBM
dengan rifampisin menunjukkan efek aditif. Mekanisme kerja DBW dan DBM diduga berkaitan
dengan gangguan pada integritas struktur dinding sel bakteri.
Perpustakaan Digital ITB