Hubungan keluarga merupakan ruang awal terbentuknya relasi sosial yang turut
mempengaruhi cara individu memperoleh akses terhadap berbagai kesempatan.
Ketika hubungan kekerabatan memasuki ranah politik, distribusi kesempatan
dapat bergeser menjadi praktik nepotisme yang terus berlangsung antargenerasi.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, karya “Turun Temurun” menghadirkan kritik
terhadap praktik nepotisme dalam pemerintahan Indonesia melalui instalasi seni
patung lunak. Sebagai perempuan, penulis memilih kain sebagai medium karya
atas keterkaitan material kain yang dekat dengan ruang domestik dan kehidupan
keluarga. Kedekatan material tersebut menjadi cara penulis membicarakan
persoalan politik melalui pengalaman yang akrab dengan perempuan. Gagasan
tersebut diwujudkan dalam instalasi figur-figur bayi tua dengan identitas peci dan
dasi, yang disusun menyerupai struktur piramida yang berlandaskan dari teori
Patrimonialisme Max Weber. Melalui pendekatan seni sebagai ekspresi sosial
Feldman dan teori seni sebagai simbol Susanne K. Langer, karya ini berupaya
untuk menyampaikan kritik terhadap praktik nepotisme melalui bahasa visual
yang berangkat dari pengalaman domestik. Keseluruhan bentuk visual mengajak
audiens merefleksikan hubungan antara keluarga, kekuasaan, dan distribusi
kesempatan dalam politik Indonesia serta menunjukkan potensi soft sculpture
sebagai medium kritik sosial dan politik. Karya "Turun Temurun" berupaya
menegaskan bahwa nepotisme tumbuh dari relasi keluarga, yang kemudian
berbuah pada ketimpangan yang paling struktural dalam distribusi kekuasaan dan
kesempatan di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB