digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Hubungan keluarga merupakan ruang awal terbentuknya relasi sosial yang turut mempengaruhi cara individu memperoleh akses terhadap berbagai kesempatan. Ketika hubungan kekerabatan memasuki ranah politik, distribusi kesempatan dapat bergeser menjadi praktik nepotisme yang terus berlangsung antargenerasi. Berangkat dari kegelisahan tersebut, karya “Turun Temurun” menghadirkan kritik terhadap praktik nepotisme dalam pemerintahan Indonesia melalui instalasi seni patung lunak. Sebagai perempuan, penulis memilih kain sebagai medium karya atas keterkaitan material kain yang dekat dengan ruang domestik dan kehidupan keluarga. Kedekatan material tersebut menjadi cara penulis membicarakan persoalan politik melalui pengalaman yang akrab dengan perempuan. Gagasan tersebut diwujudkan dalam instalasi figur-figur bayi tua dengan identitas peci dan dasi, yang disusun menyerupai struktur piramida yang berlandaskan dari teori Patrimonialisme Max Weber. Melalui pendekatan seni sebagai ekspresi sosial Feldman dan teori seni sebagai simbol Susanne K. Langer, karya ini berupaya untuk menyampaikan kritik terhadap praktik nepotisme melalui bahasa visual yang berangkat dari pengalaman domestik. Keseluruhan bentuk visual mengajak audiens merefleksikan hubungan antara keluarga, kekuasaan, dan distribusi kesempatan dalam politik Indonesia serta menunjukkan potensi soft sculpture sebagai medium kritik sosial dan politik. Karya "Turun Temurun" berupaya menegaskan bahwa nepotisme tumbuh dari relasi keluarga, yang kemudian berbuah pada ketimpangan yang paling struktural dalam distribusi kekuasaan dan kesempatan di Indonesia.