digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Uborampe merupakan seperangkat benda bermakna simbolis yang menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian upacara pernikahan adat Jawa. Seiring arus modernisasi dan globalisasi, pewarisan prosesi adat tidak lagi diikuti transmisi makna sehingga uborampe terindikasi mengalami transformasi visual sekaligus pergeseran makna simbolis. Penelitian ini bertujuan memetakan wujud visual uborampe, mengkaji bentuk transformasinya, serta menganalisis keterkaitan antara transformasi visual dan pergeseran makna simbolisnya di kalangan masyarakat umum non-bangsawan wilayah Jawa Tengah–DIY. Penelitian menggunakan paradigma kualitatif-interpretatif dengan pendekatan deskriptif-kualitatif dan diakronik. Data primer berupa dokumentasi visual dari lima belas penyelenggaraan pernikahan serta wawancara dengan otoritas budaya, praktisi industri pernikahan, dan pelaku pernikahan, dibaca melalui sebelas himpunan inti uborampe pada tiga periode, yakni Tradisional (2000–2009), Transisi (2010–2019), dan Modern (2020–2026). Analisis konten membedah lima variabel rupa (bahan baku, teknik, bentuk, warna, dan komposisi) yang ditafsirkan menggunakan kerangka tiga wujud kebudayaan serta teori transformasi budaya. Hasil penelitian merumuskan empat tipe transformasi, yakni reduksi, substitusi, modifikasi, serta resistensi. Transformasi berlangsung secara selektif dengan warna, bahan baku, dan teknik merupakan variabel paling rentan, sementara bentuk paling persisten. Temuan utama menegaskan bahwa pergeseran makna berbanding terbalik dengan derajat keterlibatan objek dalam laku ritual, bukan hanya ditentukan oleh tingkat perubahan wujud materialnya. Peluruhan makna dipicu terputusnya rantai transmisi ketika produksi uborampe beralih dari sistem komunal ke vendor komersial. Seluruh temuan disintesiskan ke dalam sebuah model transformasi kebudayaan uborampe sebagai rujukan bagi pelestarian warisan budaya takbenda.