Uborampe merupakan seperangkat benda bermakna simbolis yang menjadi bagian
tak terpisahkan dari rangkaian upacara pernikahan adat Jawa. Seiring arus
modernisasi dan globalisasi, pewarisan prosesi adat tidak lagi diikuti transmisi
makna sehingga uborampe terindikasi mengalami transformasi visual sekaligus
pergeseran makna simbolis. Penelitian ini bertujuan memetakan wujud visual
uborampe, mengkaji bentuk transformasinya, serta menganalisis keterkaitan
antara transformasi visual dan pergeseran makna simbolisnya di kalangan
masyarakat umum non-bangsawan wilayah Jawa Tengah–DIY. Penelitian
menggunakan paradigma kualitatif-interpretatif dengan pendekatan
deskriptif-kualitatif dan diakronik. Data primer berupa dokumentasi visual dari
lima belas penyelenggaraan pernikahan serta wawancara dengan otoritas budaya,
praktisi industri pernikahan, dan pelaku pernikahan, dibaca melalui sebelas
himpunan inti uborampe pada tiga periode, yakni Tradisional (2000–2009),
Transisi (2010–2019), dan Modern (2020–2026). Analisis konten membedah lima
variabel rupa (bahan baku, teknik, bentuk, warna, dan komposisi) yang ditafsirkan
menggunakan kerangka tiga wujud kebudayaan serta teori transformasi budaya.
Hasil penelitian merumuskan empat tipe transformasi, yakni reduksi, substitusi,
modifikasi, serta resistensi. Transformasi berlangsung secara selektif dengan
warna, bahan baku, dan teknik merupakan variabel paling rentan, sementara
bentuk paling persisten. Temuan utama menegaskan bahwa pergeseran makna
berbanding terbalik dengan derajat keterlibatan objek dalam laku ritual, bukan
hanya ditentukan oleh tingkat perubahan wujud materialnya. Peluruhan makna
dipicu terputusnya rantai transmisi ketika produksi uborampe beralih dari sistem
komunal ke vendor komersial. Seluruh temuan disintesiskan ke dalam sebuah
model transformasi kebudayaan uborampe sebagai rujukan bagi pelestarian
warisan budaya takbenda.
Perpustakaan Digital ITB