digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Muhammad Nabiel Hafiz
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 1 Muhammad Nabiel Hafiz
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 2 Muhammad Nabiel Hafiz
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 3 Muhammad Nabiel Hafiz
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 4 Muhammad Nabiel Hafiz
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 5 Muhammad Nabiel Hafiz
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 6 Muhammad Nabiel Hafiz
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

PUSTAKA Muhammad Nabiel Hafiz
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

LAMPIRAN Muhammad Nabiel Hafiz
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

Program Kampung Iklim (ProKlim) menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pelaksanaan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dengan melibatkan berbagai pihak secara lintas sektor. Kampung Cibunut di Kota Bandung dipilih karena telah mencapai kategori ProKlim Lestari dan memiliki pengalaman kolaborasi lingkungan sebelum ProKlim diterapkan. Penelitian ini bertujuan menganalisis tata kelola kolaboratif dalam implementasi ProKlim di Kampung Cibunut menggunakan kerangka Cross-Sector Collaboration Bryson dkk. (2006). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan studi dokumen yang dianalisis menggunakan directed content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi ProKlim berkembang dari pengalaman kolaboratif melalui Program Kawasan Bebas Sampah sejak tahun 2015. ProKlim tidak membentuk kolaborasi dari awal, tetapi mengakui dan mengintegrasikan kegiatan serta hubungan antaraktor yang telah terbentuk sebelumnya. Struktur kolaborasi berkembang melalui perpaduan mekanisme formal dan informal, sementara proses kolaborasi berlangsung melalui pembentukan kesepakatan yang bersifat rekognitif, pembangunan kepemimpinan, legitimasi, kepercayaan, pengelolaan konflik, dan perencanaan. Kendala utama terdapat pada keterbatasan kapasitas administratif, akses terhadap sumber daya eksternal, serta perbedaan antara orientasi masyarakat terhadap pelaksanaan aksi dan tuntutan administrasi ProKlim. Kolaborasi menghasilkan penguatan aksi adaptasi dan mitigasi, kelembagaan lokal, dokumentasi, serta jejaring pembelajaran dengan wilayah lain. Keberlanjutan kolaborasi ditopang oleh kapasitas kelembagaan dan regenerasi, sedangkan akuntabilitas dilakukan melalui pencatatan, verifikasi, pemantauan, dan evaluasi.