digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Putri Lestari Y Br Rumapea
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Curah hujan di Pulau Jawa menunjukkan variabilitas musiman dan antar-tahunan yang dipengaruhi oleh fenomena iklim skala besar serta faktor lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik curah hujan pada musim hujan Desember Februari (DJF) dan musim kemarau Juni–Agustus (JJA), serta mengevaluasi keterkaitannya dengan El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) selama periode 1991–2020. Data CHIRPS digunakan sebagai data curah hujan utama, sedangkan MSWEP V2.8 digunakan sebagai data pembanding. ENSO direpresentasikan oleh indeks Niño 3.4, IOD oleh Dipole Mode Index (DMI), dan topografi menggunakan NASADEM. Analisis meliputi klimatologi, variabilitas antar-tahunan, korelasi Pearson, korelasi parsial, uji signifikansi statistik, koreksi False Discovery Rate (FDR), serta komposit kombinasi fase ENSO–IOD. Hasil menunjukkan kontras musiman yang kuat, dengan rata-rata curah hujan sebesar 351,21 mm/bulan pada DJF dan 75,99 mm/bulan pada JJA. ENSO menunjukkan hubungan negatif dan signifikan dengan curah hujan regional pada kedua musim, tetapi kekuatan hubungannya berkurang setelah IOD dikontrol secara parsial. Hubungan paling kuat ditemukan antara IOD dan curah hujan JJA, dengan korelasi Pearson sebesar ?0,596 dan korelasi parsial sebesar ?0,540. Analisis komposit menunjukkan bahwa kondisi El Niño–IOD netral pada JJA menghasilkan anomali curah hujan negatif yang luas dan signifikan pada sekitar 98,15% grid. Hubungan elevasi dengan respons ENSO dan IOD tergolong lemah, sehingga elevasi tidak menjadi satu-satunya faktor yang menjelaskan heterogenitas spasial respons curah hujan. Perbandingan CHIRPS dan MSWEP V2.8 menunjukkan bahwa keterkaitan IOD–JJA merupakan temuan yang paling konsisten, sedangkan beberapa hubungan ENSO lebih sensitif terhadap produk curah hujan yang digunakan. Temuan ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan isolasi sinyal IOD dalam pemodelan prediksi iklim dan mitigasi risiko bencana hidrometeorologi (seperti kekeringan dan kegagalan panen) di Pulau Jawa, khususnya pada musim kemarau.