Penelitian ini mengevaluasi kinerja teknis dan kelayakan ekonomi produksi
hidrogen hijau dengan memanfaatkan daya listrik berlebih (excess power) dari
PLTMh Krueng Isep di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, sebagai strategi optimalisasi
energi terbarukan lokal. Dua teknologi elektrolisis air yang dianalisis adalah
Alkaline Electrolyzer (AEL) dan Solid Oxide Electrolysis Cell (SOEC). Pemodelan
proses dilakukan menggunakan Aspen HYSYS V14 dengan pendekatan steadystate.
Pada daya input 40,5 kW, hasil simulasi menunjukkan produksi hidrogen tahunan
sebesar 6.146,02 kg untuk AEL dan 9.881,28 kg untuk SOEC. Validasi model AEL
dilakukan menggunakan data operasional unit TITAN™ HMXT-100 berkapasitas
40,5 kW di PLTU Tanjung Jati, dengan produksi aktual sebesar 3.527,14 kg/tahun,
atau 57,39% dari hasil simulasi. Oleh karena itu, diterapkan faktor koreksi 0,5739
untuk merepresentasikan kondisi operasional nyata. Untuk SOEC, validasi
dilakukan melalui perbandingan literatur karena belum tersedia implementasi
komersial di Indonesia.
Analisis scale-up menuju kapasitas sekitar 1 MW menunjukkan bahwa AEL
beroperasi pada daya 1.012,5 kW, sedangkan SOEC memerlukan 1.300 kW akibat
tambahan energi pemanas. Evaluasi ekonomi menunjukkan bahwa AEL (Skenario
4) menghasilkan LCOH USD 6,89/kg H?, NPV USD 5,34 juta, IRR 90%, dan
Payback Period 1,11 tahun. Sebaliknya, SOEC memiliki LCOH USD 20,59–
23,98/kg H? dengan NPV negatif serta IRR dan PbP tidak tercapai dalam periode
analisis 10 tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa AEL layak untuk implementasi jangka
pendek, sedangkan SOEC memerlukan integrasi panas eksternal dan insentif
kebijakan agar dapat mencapai daya saing ekonomi.
Perpustakaan Digital ITB