digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penerapan kebijakan pajak karbon pada sektor hulu minyak dan gas (migas) mengubah profil biaya operasional menjadi beban finansial langsung yang berdampak pada kelayakan ekonomi proyek. Dampak tersebut menjadi semakin kritis pada lapangan minyak tua yang secara alami mengalami penurunan laju produksi dan kenaikan biaya perbaikan sumur, sehingga memiliki kerentanan tinggi terhadap beban biaya tambahan berupa pajak karbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana penerapan pajak karbon mempengaruhi indikator ekonomi proyek migas, terutama Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR), serta merancang dan menguji strategi pengaturan laju produksi dan durasi produksi sebagai upaya mitigasi terhadap beban biaya karbon. Metode penelitian menggabungkan inventarisasi emisi berbasis aktivitas dengan analisis finansial proyek. Emisi karbon dihitung untuk setiap sumber utama: pembakaran bahan bakar operasional, flaring, venting, dan fugitive emissions. Pendekatan berbasis aktivitas memungkinkan penghitungan emisi yang terperinci berdasarkan intensitas bahan bakar, jam operasi, volume flaring/venting, dan laju kebocoran yang diamati atau diestimasi. Emisi yang dihitung dikonversi menjadi beban biaya karbon menggunakan tarif pajak karbon yang diberlakukan, kemudian dikoreksi dengan mekanisme subsidi berbasis alokasi allowance dari pemerintah atau dengan kata lain sejumlah alokasi emisi yang diberikan mengurangi beban pajak riil sehingga menghasilkan biaya karbon bersih. Biaya karbon bersih ini dimasukkan ke dalam proyeksi arus kas operasi proyek sehingga perubahan NPV dan IRR dapat dihitung secara langsung. Untuk menguji strategi mitigasi operasional, dikembangkan skenario optimasi produksi yang merupakan kombinasi pengurangan laju produksi sebesar 10%, 20%, dan 30% bersama opsi perpanjangan durasi produksi masing-masing sebesar satu, dua, dan tiga tahun. Pendekatan ini merefleksikan trade-off klasik yaitu menurunkan laju produksi menurunkan intensitas emisi tahunan dan pajak karbon tahunan, namun menambah durasi lapangan sehingga menambah akumulasi biaya operasi dan risiko harga. Model keuangan dijalankan pada kondisi baseline ekonomi saat ini, serta melalui analisis sensitivitas terhadap eskalasi harga karbon jangka panjang untuk menilai ketahanan strategi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberlakuan pajak karbon secara signifikan menurunkan NPV baseline meskipun mekanisme allowance atau subsidi dapat mengurangi sebagian beban awal. Di antara kombinasi skenario yang diuji, konfigurasi yang diberi kode Skenario C1 yakni pengurangan laju produksi yang moderat dipadu dengan perpanjangan durasi yang singkat, sehingga muncul sebagai konfigurasi paling optimal dalam kondisi ekonomi dan tarif karbon saat ini, karena mampu menyeimbangkan pengurangan pajak karbon tahunan tanpa memperbesar akumulasi biaya operasi secara berlebihan. Namun, hasil analisis sensitivitas mengungkap batas efektivitas strategi ini yaitu pada proyeksi jangka panjang dengan eskalasi harga karbon yang tinggi, penurunan laju produksi dan perpanjangan durasi tidak lagi cukup untuk menjaga kelayakan ekonomi dikarenakan NPV turun di bawah ambang kelayakan dan IRR menurun ke tingkat yang tidak menarik bagi investor. Dari sisi kebijakan dan praktik operasional, penelitian ini membuktikan bahwa pengaturan laju produksi adalah alat mitigasi jangka menengah yang berguna untuk lapangan migas tua menghadapi pajak karbon. Namun, efektivitasnya bersifat sementara dan sensitif terhadap trajektori harga karbon. Oleh karena itu, untuk menjaga keberlanjutan ekonomi lapangan tua pada skenario kenaikan harga karbon, dibutuhkan integrasi strategi teknologi pengurangan emisi seperti efisiensi pembakaran, elektrifikasi fasilitas dengan energi rendah karbon, pengurangan fugitive emissions melalui inspeksi serta perbaikan infrastruktur. Penelitian ini juga menyoroti perlunya kebijakan allowance yang adil dan fleksibel serta desain pajak karbon yang mempertimbangkan kelangkaan ekonomi lapangan tua agar tidak menyebabkan penutupan dini yang merugikan perekonomian lokal. Penelitian ini menyumbang kerangka kuantitatif bagi pengambil keputusan perusahaan dan pembuat kebijakan untuk memungkinkan evaluasi trade-off antara kebijakan iklim dan kelayakan investasi hilir hulu migas, serta menegaskan pentingnya kombinasi pengaturan operasional dan investasi teknologi sebagai respons yang lebih tangguh terhadap beban biaya karbon.