digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Ekosistem air tawar mengalami penurunan biodiversitas yang signifikan, salah satu penyebab utamanya adalah invasi tumbuhan asing Eichhornia crassipes. Spesies ini dapat mendominasi perairan, mengubah fungsi ekosistem, dan berpotensi menghambat pencapaian SDG 6 tentang air bersih dan sanitasi. Penelitian mengenai spesies ini sebagian besar berfokus pada pemanfaatan biomassa, produksi bioenergi, bioadsorben, fitoremediasi, dan berbagai aplikasi biokimia. Sementara, kajian ekologis yang mengintegrasikan pemetaan berbasis Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dan pengambilan sampel lapangan untuk mengkuantifikasi okupansi, distribusi, densitas, dan biomassa populasi serta mengaitkannya dengan kualitas air masih terbatas. Penelitian ini mengukur parameter kualitas air mencakup oksigen terlarut (DO), suhu, pH, konduktivitas, total padatan terlarut (TDS), kecepatan arus, transparansi, nutrien, dan klorofil-a. Hasil penelitian menunjukkan bahwa E. crassipes menempati 3,10–12,41% area, dengan densitas 15–20 individu/m² dan biomassa sebesar 164–299 g/individu (basah) serta 24–53 g/individu (kering). Secara spasial, E. crassipes terkonsentrasi pada zona yang relatif terlindung dan berpotensi menerima input nutrien, seperti zona litoral, area sekitar akuakultur, dan sebagian area inlet. Tingginya nilai densitas tanaman berasosiasi dengan rendahnya DO dan klorofil-a, serta tingginya suhu, konduktivitas, TDS, transparansi, dan nitrit. Evaluasi kualitas air berdasarkan baku mutu air menunjukkan bahwa lokasi terinvasi cenderung memiliki kelas mutu yang lebih rendah, terutama akibat rendahnya DO dan tingginya konsentrasi nutrien pada beberapa lokasi. Berdasarkan data spasial dan lapangan, pengelolaan konservasi ekosistem air tawar yang terinvasi perlu dilakukan berbasis data seperti penetapan zona prioritas, pengendalian input nutrien, pencegahan penyebaran, pemantauan berbasis UAV, dan kolaborasi antarpemangku kepentingan.