ABSTRAK Juniar Risalatul Awaliyah
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Keberlanjutan eksploitasi energi panas bumi pada sistem dominasi air dihadapkan
pada tantangan teknis berupa risiko pendinginan prematur (premature thermal
breakthrough) akibat aktivitas reinjeksi fluida sisa produksi (brine). Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi parameter reservoir dan operasional
terhadap pola perambatan front dingin (cold water plume) serta waktu terjadinya
thermal breakthrough (tbt) melalui pemodelan numerik sektor tiga dimensi (3D).
Eksperimen numerik disimulasikan secara sekuensial terkopel menggunakan
MATLAB Reservoir Simulation Toolbox (MRST) dengan pendekatan model
konseptual homogen yang diintegrasikan bersama input data properti termofisika
riil dari Lapangan Dieng. Persamaan distribusi tekanan dan fluks aliran hidrolik
diselesaikan secara tunak (steady-state) melalui skema Two-Point Flux
Approximation (TPFA) di bawah kendali Bottom Hole Pressure (BHP) konstan,
sedangkan persamaan konservasi energi termal diselesaikan secara transien
menggunakan skema volume hingga upwind kustom. Analisis sensitivitas
dilakukan dengan metode One-at-a-Time (OAT) terhadap lima variabel utama,
dengan kriteria batas ambang thermal breakthrough didefinisikan secara kuantitatif
saat temperatur produksi mengalami penurunan sebesar 1% dari kondisi awal. Hasil
simulasi menunjukkan bahwa thermal breakthrough pada kondisi dasar (base case)
tercapai setelah 55.15 tahun operasi ketika entalpi produksi menyentuh 1039.5
kJ/kg yang setara dengan temperatur 247.5 °C. Analisis sensitivitas menunjukan
bahwa parameter yang paling berpengaruh terhadap waktu thermal breakthrough
secara berturut-turut adalah permeabilitas horizontal (?tbt = 82.27 tahun), jarak
antarsumur (?tbt = 78.99 tahun), kapasitas panas batuan (?tbt = 18.50 tahun),
temperatur fluida injeksi ( ?tbt = 12.33 tahun), dan ukuran lateral reservoir
(?tbt = 6.25 tahun). Parameter kontrol hidrolik terbukti memberikan pengaruh
paling ekstrem melalui hubungan fisis non-linear berupa hubungan linear terbalik (tbt ? 1/?) pada variasi permeabilitas dan hubungan kuadratik (tbt ? L
2
) pada
variasi jarak sumur terhadap waktu tinggal (residence time) fluida. Sebaliknya,
parameter kontrol termal memberikan dampak tingkat moderat yang dibatasi oleh
karakteristik laju hantaran konduktif matriks batuan Dieng, sementara variabel
geometri lateral bersifat marjinal karena domain reservoir dengan cepat
menunjukkan karakteristik infinite-acting reservoir. Implikasi praktis dari
penelitian ini menegaskan bahwa meminimalkan ketidakpastian permeabilitas
bawah permukaan sejak tahap eksplorasi serta optimasi rekayasa tata letak sumur
doublet (well spacing) bertindak sebagai strategi mitigasi operasional paling utama
demi menjamin keberlanjutan termal jangka panjang sistem reservoir panas bumi.
Perpustakaan Digital ITB