digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


BAB 1 - Jonathan Milkyway P Manurung
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 - Jonathan Milkyway P Manurung
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 - Jonathan Milkyway P Manurung
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 - Jonathan Milkyway P Manurung
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 - Jonathan Milkyway P Manurung
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

DAFTAR PUSTAKA - Jonathan Milkyway P Manurung
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

Peningkatan kebutuhan energi dan dampak lingkungan akibat penggunaan bahan bakar fosil mendorong pengembangan sumber energi alternatif yang lebih berkelanjutan, salah satunya biohidrogen. Produksi biohidrogen menggunakan fungi masih relatif terbatas dibandingkan sistem berbasis bakteri, termasuk kajian mengenai pengaruh penambahan material besi terhadap proses fermentasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi konsentrasi partikel besi hasil sintesis hijau terhadap profil produksi biohidrogen oleh Penicillium singorense (M3), Coriolopsis sp. (M6), dan Fusarium incarnatum (M43), serta membandingkan responsnya dengan kondisi tanpa penambahan partikel besi. Partikel besi disintesis menggunakan ekstrak daun kratom (Mitragyna speciosa) dan FeSO4·7H2O sebagai prekursor. Material hasil sintesis dikarakterisasi menggunakan Atomic Absorption Spectroscopy (AAS), Particle Size Analyzer (PSA), dan SEM-EDS. Konsentrasi Fe hasil sintesis ditentukan menggunakan AAS dan digunakan sebagai dasar penentuan volume penambahan partikel pada media. Percobaan fermentasi dilakukan pada konsentrasi partikel besi 0, 50, 100, dan 150 ppm secara duplo. Pengamatan dilakukan pada hari ke-0, 1, 3, 5, 7, dan 10 melalui pengukuran pH, Eh, serta kadar H2 pada fase cair dan gas menggunakan hydrogen meter. Metode methylene blue digunakan sebagai metode pendukung untuk mengindikasikan keberadaan H2. Hasil AAS menunjukkan konsentrasi Fe dalam suspensi hasil sintesis sebesar 1884,35 mg/L. Hasil PSA menunjukkan dua populasi ukuran utama dengan diameter rata-rata 309,1 nm dan 1154,3 nm serta area ratio masing-masing 0,53 dan 0,47, yang menunjukkan distribusi ukuran polidispersi. Penambahan partikel besi secara umum menyebabkan perubahan pH dan Eh serta peningkatan kadar H2 terjadi lebih awal dibandingkan kontrol. Nilai H2 tertinggi pada M3 dan M43 diperoleh pada perlakuan 150 ppm pada hari ke-5, sedangkan M6 menunjukkan nilai tertinggi pada 50 ppm pada hari ke-7. Pada fase gas, perlakuan dengan konsentrasi besi lebih tinggi menunjukkan akumulasi H2 yang lebih awal, sementara kontrol dan konsentrasi rendah menunjukkan peningkatan yang lebih lambat hingga hari ke-10. Secara keseluruhan, penambahan partikel besi memengaruhi profil produksi biohidrogen dan cenderung mempercepat munculnya peningkatan H2, tetapi respons yang dihasilkan bersifat spesifik terhadap fungi dan tidak menunjukkan hubungan linear dengan peningkatan konsentrasi besi.