digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Anjani Athaya Rajiyyah
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Penelitian ini membandingkan respons oseanografi perairan Indonesia terhadap triple- dip La Niña 1998–2001 (P1) dan 2020–2023 (P2) menggunakan simulasi hindcast MITgcm beresolusi 1/30°. Model menggunakan forcing atmosfer ERA5 dan kondisi batas HYCOM, kemudian diverifikasi terhadap BRAN2020 dan observasi mooring INSTANT. Analisis mencakup mekanisme pemicu kedua kejadian, struktur temperatur, transpor Arlindo, serta heat budget regional. Hasil menunjukkan bahwa P1 lebih bersifat ocean-discharge driven, ditandai defisit OHC300, D20 yang lebih dangkal, dan kondisi laut pasca-El Niño 1997/98. Sebaliknya, P2 lebih wind/mean-state driven, dengan Pasifik barat sekitar 0,3–0,5 °C lebih hangat, gradien SST zonal lebih kuat, dan anomali angin timuran yang lebih persisten. Perbedaan regional terbesar terdapat pada kedalaman sekitar 100–300 m, ketika P2 menunjukkan D20 sekitar 10–30 m lebih dalam dan lapisan hangat yang lebih tebal sepanjang jalur Pasifik barat–Laut Sulawesi– Selat Makassar–Laut Banda. Namun, pada DJF, suhu permukaan P2 lebih dingin sekitar 0,2–1,0 °C di sebagian Indonesia tengah–timur. Heat budget menunjukkan bahwa suhu lapisan atas terutama dikontrol oleh kompensasi antara pemanasan shortwave dan pendinginan non-shortwave, sedangkan adveksi dan difusi memodulasi respons regional. Secara keseluruhan, pembeda utama P1 dan P2 terletak pada mekanisme pemeliharaan kejadian dan distribusi vertikal panas di sepanjang jalur Arlindo.