digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penelitian ini menguji hubungan antara suku bunga acuan Bank Indonesia dan profitabilitas dua bank umum terbesar di Indonesia, yaitu Bank Mandiri dan Bank Central Asia (BCA), selama periode 2015–2024. Profitabilitas diukur menggunakan Return on Assets (ROA). Analisis dilakukan dalam empat tahap: statistik deskriptif untuk seluruh variabel penelitian, analisis korelasi Pearson yang dilakukan secara terpisah untuk masing-masing bank, uji paired-samples t-test yang membandingkan kedua bank tahun per tahun, serta regresi berganda pooled yang diestimasi pada panel gabungan berisi dua puluh observasi bank-tahun. Hasil korelasi menunjukkan kontras yang jelas antara kedua bank. Pada Bank Mandiri, suku bunga acuan berkorelasi positif dan signifikan dengan ROA (r = 0.677, p = 0.032) dan menjelaskan 45.8% variasi profitabilitasnya. Pada BCA, korelasinya positif tetapi tidak signifikan secara statistik (r = 0.466, p = 0.174) dan menjelaskan 21.7% variasi. Uji paired-samples t-test menunjukkan bahwa BCA merupakan bank yang lebih profitabel, dengan rata-rata ROA tahunan lebih tinggi 0.739 poin persentase (t(9) = 3.044, p = 0.014, 95% CI [0.190, 1.288], Cohen’s d = 0.96), dan hasil ini tetap bertahan ketika satu tahun mana pun dikeluarkan dari sampel. Regresi berganda pooled, yang menghubungkan ROA dengan suku bunga acuan, pertumbuhan PDB, ukuran perusahaan, usia perusahaan, dan leverage, menjelaskan 62.7% variasi profitabilitas dan signifikan secara keseluruhan (F(5, 14) = 4.70, p = 0.010). Seluruh nilai variance inflation factor berada di antara 1.5 dan 3.8 sehingga koefisien masing-masing variabel dapat diinterpretasikan. Koefisien suku bunga acuan bernilai positif (0.208) dan signifikan secara marginal pada uji dua arah (p = 0.098; p = 0.049 terhadap hipotesis berarah), sedangkan usia perusahaan menjadi satu-satunya prediktor yang signifikan pada tingkat konvensional 5% (0.020, p = 0.049). Namun, dalam panel dua bank, usia perusahaan sekaligus berperan sebagai tren waktu spesifik per bank sehingga koefisiennya diinterpretasikan dengan hati-hati. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suku bunga acuan berpengaruh secara sistematis terhadap profitabilitas Bank Mandiri, tetapi tidak terhadap BCA, sementara BCA mempertahankan keunggulan profitabilitas yang signifikan dan cukup besar sepanjang periode penelitian. Perbedaan tersebut dapat dikaitkan dengan struktur pendanaan dan struktur pendapatan kedua bank. Portofolio kredit korporasi 10 Bank Mandiri yang lebih besar dan struktur pendanaannya yang lebih sensitif terhadap harga membuat marginnya lebih terekspos terhadap perubahan suku bunga acuan, sedangkan rasio current account dan savings account BCA yang berada di atas 80% disertai portofolio fee-based income yang beragam melindungi margin BCA dari dampak perubahan suku bunga. Mengingat jumlah observasi tahunan yang terbatas (n = 10 observasi per bank; n = 20 gabungan), temuan penelitian ini bersifat indikatif dan memerlukan penelitian lanjutan.