digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Gara Ghalib Ramadhan
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Budidaya lobster merupakan kegiatan perikanan laut bernilai ekonomi tinggi yang memerlukan kondisi perairan yang sesuai agar pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan produktivitas lobster dapat dipertahankan. Perairan Batam memiliki potensi untuk pengembangan budidaya lobster dengan sistem keramba jaring apung, tetapi kondisi perairannya dipengaruhi oleh perubahan musim, aktivitas pesisir dan jalur pelayaran. Penelitian ini untuk menganalisis kesesuaian lokasi perairan untuk budidaya lobster menggunakan sistem keramba jaring apung di Perairan Batam. Analisis dilakukan terhadap delapan parameter, yaitu kedalaman, kecepatan arus, suhu, salinitas, oksigen terlarut, pH, fosfat, dan nitrat. Data diperoleh dari Copernicus Marine untuk musim penghujan periode Desember 2024 sampai Februari 2025 dan musim kemarau periode Juni sampai Agustus 2025. Data diolah menggunakan Microsoft Excel dan ArcGIS melalui ekstraksi nilai pada sepuluh titik representatif, pemetaan spasial, klasifikasi, pembobotan, dan skoring kesesuaian. Tingkat kelayakan dibagi menjadi kelas sesuai (S1), cukup sesuai (S2), dan tidak sesuai (S3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada musim penghujan terdapat sembilan titik yang termasuk kelas S1 dan satu titik termasuk kelas S2, yaitu Titik 2. Pada musim kemarau terdapat lima titik yang termasuk kelas S1 dan lima titik termasuk kelas S2, yaitu Titik 2, Titik 5, Titik 6, Titik 7, dan Titik 9. Hasil rata-rata skor dua musim menunjukkan tujuh titik termasuk kelas S1, sedangkan Titik 2, Titik 6, dan Titik 9 termasuk kelas S2. Berdasarkan nilai skor gabungan, lokasi dengan tingkat kesesuaian tertinggi berada di wilayah Pulau Galang zona timur laut (Titik 8; skor 65), diikuti wilayah Pulau Bulan (Titik 4; skor 64), serta kawasan Kapalajernih dan Tanjung Sauh (Titik 3 dan Titik 10; skor 61). Parameter suhu, salinitas, oksigen terlarut, dan pH secara umum mendukung kegiatan budidaya. Kecepatan arus yang relatif rendah menjadi faktor pembatas dominan, sedangkan peningkatan konsentrasi nitrat pada musim kemarau menjadi pembatas penting dari aspek kualitas air. Secara umum, Perairan Batam tergolong layak untuk pengembangan budidaya lobster dengan sistem keramba jaring apung, tetapi lokasi yang termasuk kelas S2 memerlukan pemantauan kualitas air dan verifikasi lapangan sebelum digunakan sebagai lokasi budidaya.