digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Transformasi Transformasi pusat kendali sistem ketenagalistrikan Jawa–Madura– Bali dari skema enam Control Centre menuju dua pusat kendali utama, yaitu Main Control Centre (MCC) dan Disaster Recovery Centre (DRC), menyebabkan perubahan pola komunikasi jaringan dari terdistribusi menjadi lebih terpusat. Perubahan ini menuntut kesiapan infrastruktur telekomunikasi yang andal untuk mendukung layanan operasional Smart Grid seperti SCADA, Defense Scheme, Voice, Metering, dan Monitoring. Di sisi lain, digitalisasi layanan seperti migrasi SCADA dari IEC 101 ke IEC 104, implementasi IEC 61850 GOOSE pada sistem proteksi, serta peningkatan kebutuhan monitoring aset berbasis IP menyebabkan peningkatan kebutuhan trafik dan kualitas layanan komunikasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa jaringan komunikasi eksisting, menganalisis kebutuhan trafik layanan, serta merancang dan mensimulasikan arsitektur jaringan backbone MCC–DRC pada sistem ketenagalistrikan Jawa–Madura–Bali. Metode penelitian dilakukan melalui tiga tahapan utama. Tahap pertama adalah pengukuran kualitas jaringan eksisting berbasis SDH/PDH dan Industrial Ethernet Switch menggunakan metode Bit Error Rate Test (BERT) Ethernet/EtherSAM dengan perangkat ukur EXFO, untuk memperoleh parameter QoS berupa latency, jitter, throughput, dan reliability. Tahap kedua adalah monitoring trafik aktual layanan Smart Grid menggunakan PRTG berbasis SNMP selama 30 hari untuk memperoleh profil kebutuhan bandwidth layanan. Tahap ketiga adalah perancangan topologi backbone MCC–DRC berdasarkan data jalur Fiber Optic eksisting dan hasil perhitungan kebutuhan trafik, kemudian disimulasikan menggunakan OMNeT++ pada beberapa skenario, yaitu kondisi normal, jalur atas, jalur bawah, dan switching/failover. Hasil pengujian menunjukkan bahwa jaringan eksisting masih mampu mendukung kebutuhan layanan Smart Grid. Jaringan Industrial Ethernet Switch memiliki performa latency lebih rendah, umumnya berada di bawah 1,5 ms, sedangkan jaringan SDH berada pada kisaran sekitar 2,5 ms hingga lebih dari 11 ms. Dari sisi throughput, kedua jaringan mampu mencapai nilai yang mendekati bandwidth acuan hingga sekitar 19,99–20 Mbps, sedangkan reliability pada kedua jaringan sangat tinggi, yaitu mendekati 100%. Hasil monitoring trafik menunjukkan bahwa kebutuhan trafik aktual layanan mencapai 362,7 Mbps, sedangkan kebutuhan berdasarkan roadmap mencapai 9.500 Mbps, sehingga total kebutuhan trafik backbone diperkirakan sebesar 9.862,7 Mbps atau sekitar 10 Gbps. Hasil simulasi MCC–DRC menunjukkan nilai latency tertinggi sebesar 10,1 ms, availability terendah sebesar 99,9050%, dan jitter tertinggi sebesar 0,00338 ms. Berdasarkan hasil tersebut, rancangan backbone MCC–DRC dapat digunakan sebagai dasar pengembangan jaringan komunikasi Smart Grid yang lebih terpusat, andal, dan sesuai dengan kebutuhan transformasi Control Centre sistem ketenagalistrikan Jawa–Madura–Bali.