Transformasi Transformasi pusat kendali sistem ketenagalistrikan Jawa–Madura–
Bali dari skema enam Control Centre menuju dua pusat kendali utama, yaitu Main
Control Centre (MCC) dan Disaster Recovery Centre (DRC), menyebabkan
perubahan pola komunikasi jaringan dari terdistribusi menjadi lebih terpusat.
Perubahan ini menuntut kesiapan infrastruktur telekomunikasi yang andal untuk
mendukung layanan operasional Smart Grid seperti SCADA, Defense Scheme,
Voice, Metering, dan Monitoring. Di sisi lain, digitalisasi layanan seperti migrasi
SCADA dari IEC 101 ke IEC 104, implementasi IEC 61850 GOOSE pada sistem
proteksi, serta peningkatan kebutuhan monitoring aset berbasis IP menyebabkan
peningkatan kebutuhan trafik dan kualitas layanan komunikasi. Oleh karena itu,
penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa jaringan komunikasi
eksisting, menganalisis kebutuhan trafik layanan, serta merancang dan
mensimulasikan arsitektur jaringan backbone MCC–DRC pada sistem
ketenagalistrikan Jawa–Madura–Bali.
Metode penelitian dilakukan melalui tiga tahapan utama. Tahap pertama adalah
pengukuran kualitas jaringan eksisting berbasis SDH/PDH dan Industrial Ethernet
Switch menggunakan metode Bit Error Rate Test (BERT) Ethernet/EtherSAM
dengan perangkat ukur EXFO, untuk memperoleh parameter QoS berupa latency,
jitter, throughput, dan reliability. Tahap kedua adalah monitoring trafik aktual
layanan Smart Grid menggunakan PRTG berbasis SNMP selama 30 hari untuk
memperoleh profil kebutuhan bandwidth layanan. Tahap ketiga adalah
perancangan topologi backbone MCC–DRC berdasarkan data jalur Fiber Optic
eksisting dan hasil perhitungan kebutuhan trafik, kemudian disimulasikan
menggunakan OMNeT++ pada beberapa skenario, yaitu kondisi normal, jalur atas,
jalur bawah, dan switching/failover.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa jaringan eksisting masih mampu mendukung
kebutuhan layanan Smart Grid. Jaringan Industrial Ethernet Switch memiliki
performa latency lebih rendah, umumnya berada di bawah 1,5 ms, sedangkan
jaringan SDH berada pada kisaran sekitar 2,5 ms hingga lebih dari 11 ms. Dari sisi
throughput, kedua jaringan mampu mencapai nilai yang mendekati bandwidth
acuan hingga sekitar 19,99–20 Mbps, sedangkan reliability pada kedua jaringan
sangat tinggi, yaitu mendekati 100%. Hasil monitoring trafik menunjukkan bahwa
kebutuhan trafik aktual layanan mencapai 362,7 Mbps, sedangkan kebutuhan
berdasarkan roadmap mencapai 9.500 Mbps, sehingga total kebutuhan trafik
backbone diperkirakan sebesar 9.862,7 Mbps atau sekitar 10 Gbps. Hasil simulasi
MCC–DRC menunjukkan nilai latency tertinggi sebesar 10,1 ms, availability
terendah sebesar 99,9050%, dan jitter tertinggi sebesar 0,00338 ms. Berdasarkan
hasil tersebut, rancangan backbone MCC–DRC dapat digunakan sebagai dasar
pengembangan jaringan komunikasi Smart Grid yang lebih terpusat, andal, dan
sesuai dengan kebutuhan transformasi Control Centre sistem ketenagalistrikan
Jawa–Madura–Bali.
Perpustakaan Digital ITB