Favipiravir merupakan antiviral pilihan utama dalam pengobatan COVID-19, yang
biasanya digunakan bersama dengan vitamin dan antiradang untuk mempercepat
penyembuhan, serta antibiotika untuk mencegah komplikasi infeksi sekunder.
Namun demikian, penggunaan kombinasi tersebut berpotensi menimbulkan interaksi
fisika-kimia pada fase padat yang dapat mempengaruhi stabilitas, kelarutan dan
keamanan obat serta potensi menjadikannya sediaan kombinasi dosis tetap masih
sangat terbatas. Pemahaman yang komprehensif mengenai jenis interaksi padatan
dengan obat-obat pendamping yang lazim digunakan secara klinis tersebut menjadi
sangat penting. Sehingga dapat diketahui apakah kombinasi tersebut memang aman
dan efektik atau tidak. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan
informasi kombinasi obat mana saja yang memungkinkan dibuat sediaan dosis tetap.
Penelitian ini bertujuan mengamati interaksi fisika dan kimia favipiravir dengan
vitamin (nikotinamid/vitamin B3 dan asam askorbat/vitamin C), antiradang non-
steroid (asam mefenamat dan indometasin), serta antibiotika siprofloksasin. Tujuan
secara lebih detail adalah menetapkan jenis interaksi dan mengamati pengaruhnya
terhadap sifat fisikokimia padatan obat, yaitu stabilitas dan kelarutan, serta
melakukan prediksi toksisitasnya secara in silico. Penetapan jenis interaksi dan
kesetimbangan molar pembentukan interaksi dari masing-masing pasangan obat
dilakukan dengan membuat diagram fasa. Selanjutnya sistem interaksi dipreparasi
dengan penggerusan dibantu dengan penetesan sedikit pelarut etanol. Bahan awal,
campuran fisik, dan hasil penggerusan dikarakterisasi secara elektrotermal,
Differential Scanning Calorimetry (DSC) Powder X-Ray Diffractometry (PXRD).
Sedangkan penetapan jenis interaksi sistem biner dilakukan dengan analisis Fourier
Transform Infrared (FTIR) dan Proton Nuclear Magnetic Resonance (H-NMR). Uji
kelarutan dilakukan dengan metode spektrofotometri UV derivatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa favipiravir membentuk campuran eutektikum
dengan seluruh pasangan obat pada rasio molar 1:2, kecuali dengan asam askorbat
yang menunjukkan interaksi terkuat pada perbandingan 1:1. Campuran eutektikum
menunjukkan penurunan suhu lebur yang khas dan hanya melibatkan pembentukan
ikatan hidrogen lemah tanpa terbentuknya fase kristalin baru. Sebaliknya, sistem
favipiravir–siprofloksasin membentuk garam yang terkonfirmasi melalui perubahan
signifikan pada data Differential Scanning Calorimetry (DSC), Powder X-Ray
Diffractometry (PXRD), Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), dan
Proton Nuclear Magnetic Resonance Spectroscopy (H-NMR). Pembentukan
campuran eutektikum dan garam secara umum meningkatkan stabilitas fisik sistem
dan secara signifikan meningkatkan kelarutan pasangan obat, sementara kelarutan
favipiravir relatif tidak berubah. Studi in silico menunjukkan penurunan potensi
toksisitas, terutama pada sistem favipiravir–nikotinamid (1:2).
Berdasarkan penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa favipiravir mampu
membentuk interaksi padatan yang berbeda dengan obat-obat pendampingnya,
berupa campuran eutektikum atau garam, yang secara signifikan memodulasi sifat
fisikokimia, terutama stabilitas dan kelarutan pasangan obat, tanpa menurunkan
karakteristik favipiravir itu sendiri. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi
pengembangan sediaan dosis tetap kombinasi berbasis favipiravir dengan profil
stabilitas dan kinerja farmasetik yang lebih baik. Selain itu, peningkatan kelarutan
dan stabilitas pasangan obat berpotensi memungkinkan penyederhanaan regimen
terapi, sehingga mendukung peningkatan kepatuhan pasien dan efektivitas
pengobatan secara keseluruhan.
Perpustakaan Digital ITB