digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Emy Susanti
PUBLIC Open In Flipbook yana mulyana

Favipiravir merupakan antiviral pilihan utama dalam pengobatan COVID-19, yang biasanya digunakan bersama dengan vitamin dan antiradang untuk mempercepat penyembuhan, serta antibiotika untuk mencegah komplikasi infeksi sekunder. Namun demikian, penggunaan kombinasi tersebut berpotensi menimbulkan interaksi fisika-kimia pada fase padat yang dapat mempengaruhi stabilitas, kelarutan dan keamanan obat serta potensi menjadikannya sediaan kombinasi dosis tetap masih sangat terbatas. Pemahaman yang komprehensif mengenai jenis interaksi padatan dengan obat-obat pendamping yang lazim digunakan secara klinis tersebut menjadi sangat penting. Sehingga dapat diketahui apakah kombinasi tersebut memang aman dan efektik atau tidak. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi kombinasi obat mana saja yang memungkinkan dibuat sediaan dosis tetap. Penelitian ini bertujuan mengamati interaksi fisika dan kimia favipiravir dengan vitamin (nikotinamid/vitamin B3 dan asam askorbat/vitamin C), antiradang non- steroid (asam mefenamat dan indometasin), serta antibiotika siprofloksasin. Tujuan secara lebih detail adalah menetapkan jenis interaksi dan mengamati pengaruhnya terhadap sifat fisikokimia padatan obat, yaitu stabilitas dan kelarutan, serta melakukan prediksi toksisitasnya secara in silico. Penetapan jenis interaksi dan kesetimbangan molar pembentukan interaksi dari masing-masing pasangan obat dilakukan dengan membuat diagram fasa. Selanjutnya sistem interaksi dipreparasi dengan penggerusan dibantu dengan penetesan sedikit pelarut etanol. Bahan awal, campuran fisik, dan hasil penggerusan dikarakterisasi secara elektrotermal, Differential Scanning Calorimetry (DSC) Powder X-Ray Diffractometry (PXRD). Sedangkan penetapan jenis interaksi sistem biner dilakukan dengan analisis Fourier Transform Infrared (FTIR) dan Proton Nuclear Magnetic Resonance (H-NMR). Uji kelarutan dilakukan dengan metode spektrofotometri UV derivatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa favipiravir membentuk campuran eutektikum dengan seluruh pasangan obat pada rasio molar 1:2, kecuali dengan asam askorbat yang menunjukkan interaksi terkuat pada perbandingan 1:1. Campuran eutektikum menunjukkan penurunan suhu lebur yang khas dan hanya melibatkan pembentukan ikatan hidrogen lemah tanpa terbentuknya fase kristalin baru. Sebaliknya, sistem favipiravir–siprofloksasin membentuk garam yang terkonfirmasi melalui perubahan signifikan pada data Differential Scanning Calorimetry (DSC), Powder X-Ray Diffractometry (PXRD), Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), dan Proton Nuclear Magnetic Resonance Spectroscopy (H-NMR). Pembentukan campuran eutektikum dan garam secara umum meningkatkan stabilitas fisik sistem dan secara signifikan meningkatkan kelarutan pasangan obat, sementara kelarutan favipiravir relatif tidak berubah. Studi in silico menunjukkan penurunan potensi toksisitas, terutama pada sistem favipiravir–nikotinamid (1:2). Berdasarkan penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa favipiravir mampu membentuk interaksi padatan yang berbeda dengan obat-obat pendampingnya, berupa campuran eutektikum atau garam, yang secara signifikan memodulasi sifat fisikokimia, terutama stabilitas dan kelarutan pasangan obat, tanpa menurunkan karakteristik favipiravir itu sendiri. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan sediaan dosis tetap kombinasi berbasis favipiravir dengan profil stabilitas dan kinerja farmasetik yang lebih baik. Selain itu, peningkatan kelarutan dan stabilitas pasangan obat berpotensi memungkinkan penyederhanaan regimen terapi, sehingga mendukung peningkatan kepatuhan pasien dan efektivitas pengobatan secara keseluruhan.