digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Norfloksasin dan levofloksasin merupakan antibiotik golongan fluoriquinolon dari generasi berbeda yang umum digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri. Norlfoksasin memiliki kelarutan yang rendah didalam air, sebaliknya, levofloksasin memiliki kelarutan yang tinggi, meskipun demikian, keduanya sama-sama bersifat tidak stabil terhadap cahaya dan oksigen. Dalam penanganan infeksi, antibiotik seringkali diberikan bersama dengan antiinflamasi, salah satunya adalah NSAID. Ketoprofen merupakan obat golongan NSAID yang banyak digunakan dalam praktik klinis untuk mengelola peradangan dan nyeri yang terkait dengan infeksi bakteri, namun memiliki kelarutan yang rendah didalam air. Penelitian terdahulu melaporkan pembuatan garam multikomponen antara antibiotik dan antiinflamasi dapat meningkatkan sifat fisikokimia, potensi antibiotik, dan aktivitas antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan sintesis, karakterisasi, analisis stabilitas, kelarutan, potensi antibiotik, dan aktivitas antiinflamasi dari garam norfloksasinketoprofen dan levofloksasin-ketoprofen. Pembuatan diagram fase biner digunakan sebagai langkah awal untuk memprediksi jenis interaksi pada sistem multikomponen yang terbentuk dan dan menentukan rasio molar stoikiometri yang tepat, dilanjutkan dengan pembuatan garam multikomponen menggunakan teknik Solvent Drop Grinding (SDG) dengan perbandingan 1:1 yang dikonfirmasi menggunakan elektrothermal, Differential Scanning Calorimetry (DSC), dan Powder X-Ray Diffractometry (PXRD). Selanjutnya, Fourier Transform Infrared (FTIR) dan Nuclear Magnetic Resonance (NMR) digunakan untuk menganalisis interaksi struktur. Uji stabilitas fisik dilakukan secara organoleptik dalam kondisi terkontrol (25±5°C/RH 70-80%) selama 4 minggu, diikuti dengan pengamatan perubahan struktural menggunakan PXRD. Uji kelarutan dilakukan menggunakan metode spektrofotometer derivatif UV, pengukuran potensi antibiotik menggunakan metode mikrodilusi terhadap bakteri Gram-positif (Staphylococcus aureus) dan Gram-negatif (Escherichia coli), serta uji antiinflamasi in vivo terhadap tikus Wistar. Garam norfloksasin-ketoprofen dan levofloksasin-ketoprofen berhasil disintesis dan dikarakterisasi. Pembentukan garam multikomponen terjadi akibat interaksi ionik antara gugus N-piperazin dari norfloksasin dan levofloksasin dengan gugus karboksilat dari ketoprofen. Garam yang terbentuk terbukti meningkatkan stabilitas norfloksasin dan levofloksasin, begitu pula kelarutan ketoprofen dan norfloksasin. Selain itu, potensi antibiotik dan aktivitas antiinflamasi juga mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil penelitian, kedua garam multikomponen ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan baku obat baru, disertai dengan uji lanjutan seperti uji toksisitas in vivo dan uji klinis.