Ibu Kota Nusantara ditetapkan melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 di
Kalimantan Timur, di atas Cekungan Kutai yang merupakan cekungan sedimen
Tersier terbesar di Indonesia. Meskipun kawasan ini dipilih karena risiko geologi
yang relatif rendah, kondisi tektonik regionalnya dicirikan oleh sistem sesar aktif,
termasuk Sesar Naik Loa Haur-Separi yang baru teridentifikasi. Penelitian ini
menerapkan metode ambient noise tomography (ANT) menggunakan rekaman 13
seismometer broadband selama enam bulan untuk mengkarakterisasi struktur kerak
dangkal secara tiga dimensi. Korelasi silang antar pasangan stasiun menghasilkan
fungsi Green empiris, dari mana kurva dispersi kecepatan grup gelombang
Rayleigh pada rentang periode 0,4–6,3 s diekstraksi. Inversi tomografi gelombang
permukaan menghasilkan model kecepatan gelombang geser (Vs) tiga dimensi
hingga kedalaman ~6,5 km. Hasil tomografi menunjukkan nilai Vs absolut yang
rendah dan konsisten (1,4–1,9 km/s) pada kedalaman 0–6,5 km, mengindikasikan
dominasi sedimen tebal Cekungan Kutai. Anomali perturbasi Vs positif pada zona
Antiklin Samarinda berorientasi NNE-SSW mencerminkan struktur fold-and-thrust
belt, sedangkan wilayah Nusantara menunjukkan anomali negatif yang
mengindikasikan sedimen Tersier belum terkonsolidasi dengan porositas tinggi.
Kontras lateral Vs yang signifikan memungkinkan identifikasi Sesar Naik Loa
Haur-Separi dari kedalaman 2–6,5 km dengan sudut kemiringan ~7°, konsisten
dengan geometri low-angle thrust fault. Penelitian ini menghasilkan model Vs
kerak dangkal tiga dimensi pertama di bawah wilayah Nusantara, sekaligus
memberikan informasi penting mengenai geometri sesar bawah permukaan dan
implikasinya terhadap bahaya seismik ibu kota baru Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB