Komoditas sektor primer, seperti perkebunan, memiliki potensi untuk dikembangkan di Kawasan Transmigrasi Bajawa, namun pemanfaatannya masih dihadapkan berbagai kendala, seperti belum adanya komoditas unggulan yang jelas, belum terciptanya akses pasar, dan keterbatasan ketersediaan air maupun alternatifnya di musim kemarau. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komoditas unggulan, menganalisis rantai pasok dan nilai tambah, memetakan potensi air tanah sebagai alternatif sumber air pendukung pengembangan komoditas, serta menyusun strategi pengembangan komoditas unggulan. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods melalui pengumpulan data primer melalui wawancara dan Focus Group Discussion (FGD) serta data sekunder. Penentuan komoditas unggulan dilakukan menggunakan Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA) dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), analisis rantai pasok menggunakan pendekatan Asian Productivity Organization (APO), analisis nilai tambah menggunakan metode Hayami, pemetaan potensi air tanah dilakukan melalui pendekatan MCDA berbasis AHP, sedangkan strategi pengembangan disusun menggunakan analisis SWOT dan disusun dengan prinsip Logical Framework Analysis (LFA) dan participatory melalui Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiri (Aleurites moluccana)
dan jambu mete (Anacardium occidentale) merupakan komoditas unggulan Kawasan Transmigrasi Bajawa, dengan kakao dan kopi sebagai komoditas pendamping pada wilayah Kecamatan Riung Barat dan Bajawa Utara, serta nanas pada wilayah Kecamatan Aimere. Analisis rantai pasok menunjukkan bahwa sistem pemasaran masih didominasi oleh pengepul dengan rasio keuntungan petani (0,26 dan 0,58) yang lebih rendah dibandingkan aktor lainnya (Pengepul: 4,23 & 2,7). Pemetaan potensi air tanah menunjukkan adanya variasi potensi pada setiap kecamatan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif sumber air pada musim kemarau. Berdasarkan hasil sintesis seluruh analisis, strategi pengembangan difokuskan pada peningkatan produktivitas dan nilai tambah komoditas melalui peningkatan kapasitas petani, penguatan rantai pasok, perencanaan pengelolaan air, serta sinergi kelembagaan untuk mendukung pengembangan kawasan transmigrasi secara berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB