digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Bambu merupakan salah satu sumber daya alam yang melimpah di Indonesia dan memiliki potensi ekonomi yang besar sebagai alternatif bahan baku kayu yang lebih berkelanjutan. Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kerajinan bambu memegang peranan penting dalam mendukung ekonomi sirkular berbasis material lokal. Namun, pengembangannya masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan penetrasi pasar, lemahnya tata kelola manajerial, belum optimalnya standardisasi mutu produk, serta proses pengambilan keputusan yang masih bertumpu pada intuisi pimpinan. Meskipun berbagai penelitian telah mengkaji rantai nilai, nilai tambah, maupun strategi pengembangan UMKM secara terpisah, masih terbatas penelitian yang mengintegrasikan analisis rantai nilai, nilai tambah ekonomi, formulasi strategi, dan penentuan prioritas strategi dalam satu kerangka analisis yang komprehensif pada UMKM kerajinan bambu. Penelitian ini bertujuan menganalisis sembilan elemen rantai nilai internal, menghitung nilai tambah ekonomi produk unggulan, mengidentifikasi faktor strategis internal dan eksternal usaha, serta merumuskan prioritas strategi pengembangan usaha yang objektif dan terukur. Penelitian ini dilaksanakan pada UMKM Saung Kasep di Kota Bandung, Jawa Barat, dengan memfokuskan studi kasus pada produk inovatif MUGBAM (mug bambu komposit food grade). Pendekatan penelitian menggunakan metode campuran melalui integrasi analisis Value Chain Porter, metode Hayami yang dimodifikasi, matriks IFE dan EFE, matriks SWOT, serta Analytical Hierarchy Process (AHP) menggunakan perangkat lunak Expert Choice 11. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive dengan melibatkan pemilik usaha dan perajin inti sebagai responden kunci serta pembeli sebagai informan. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi analisis Value Chain, metode Hayami yang dimodifikasi, SWOT, dan AHP dalam menghasilkan strategi pengembangan yang menghubungkan analisis aktivitas usaha, penciptaan nilai tambah ekonomi, evaluasi faktor strategis, dan penentuan prioritas strategi secara terukur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas rantai nilai Saung Kasep masih berjalan secara linear dan terpusat pada kendali pemilik usaha. Analisis Hayami menghasilkan nilai tambah sebesar Rp395.889 per batang bambu dengan rasio nilai tambah sebesar 29% yang termasuk kategori sedang. Evaluasi faktor strategis menghasilkan skor IFE sebesar 3,10 dan EFE sebesar 1,97 sehingga menempatkan perusahaan pada Sel VII matriks IE dengan strategi hold and maintain. Berdasarkan pembobotan AHP dengan rasio inkonsistensi sebesar 0,04, aspek pemasaran menjadi prioritas utama dengan bobot 0,402, diikuti produksi dan teknis sebesar 0,260, manajemen dan SDM sebesar 0,178, serta keberlanjutan sebesar 0,160. Strategi prioritas yang direkomendasikan adalah penguatan pemasaran digital berbasis narasi upcycling dan keamanan pangan serta penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) produksi untuk menjaga konsistensi kualitas. Hasil penelitian memberikan implikasi praktis bagi UMKM kerajinan bambu sebagai dasar penyusunan strategi pengembangan yang lebih terarah melalui penguatan pemasaran, standardisasi proses produksi, dan pengambilan keputusan berbasis data. Secara ilmiah, penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi Value Chain, metode Hayami, SWOT, dan AHP dapat menjadi pendekatan yang komprehensif dalam menghubungkan analisis operasional, penciptaan nilai tambah, dan perumusan prioritas strategi pengembangan pada UMKM berbasis sumber daya lokal.