Tanah ekspansif memiliki karakteristik mengembang dan menyusut akibat perubahan kadar air yang menyebabkan permasalahan geoteknik. Salah satu metode alternatif untuk meningkatkan kinerja teknis tanah ekspansif adalah Enzyme-Induced Carbonate Precipitation (EICP), dengan memanfaatkan enzim urease sebagai katalis hidrolisis urea untuk menghasilkan ion karbonat yang selanjutnya bereaksi dengan ion kalsium membentuk kalsium karbonat (CaCO?). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh konsentrasi urease hasil ekstraksi kedelai menggunakan larutan etanol dan lama pemeraman terhadap perubahan sifat fisik, mekanik, dan kimia tanah ekspansif, serta menentukan kombinasi perlakuan EICP yang memberikan respons perbaikan yang optimal.
Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan tanah ekspansif Cipamingkis dan Sentul. Urease diekstraksi dari kedelai menggunakan larutanpe etanol 15%, sedangkan konsentrasi urea dan CaCl? ditetapkan masing-masing 1 M. Tanah Cipamingkis diuji pada konsentrasi urease 25, 50, 75, dan 100 g/L dengan lama pemeraman 3, 7, dan 28 hari, sedangkan tanah Sentul menggunakan konsentrasi yang sama dengan lama pemeraman 7 hari. Evaluasi meliputi kompaksi, Unconfined Compressive Strength (UCS), California Bearing Ratio (CBR) unsoaked, 1-D swelling, Methylene Blue Value (MBV), pH, kapasitas tukar kation (KTK), X-Ray Diffraction (XRD), dan Scanning Electron Microscopy (SEM).
Hasil penelitian menunjukkan perlakuan EICP berbasis urease kedelai-etanol memengaruhi karakteristik tanah. Pada tanah Cipamingkis, pH meningkat dari 5,913 menjadi 7,39–7,52, sedangkan MBV menurun dari 25,003 menjadi 20,508–22,593. Peningkatan UCS terbesar mencapai 30,70% pada konsentrasi urease 100 g/L dengan pemeraman 28 hari. Swelling potential terendah sebesar 5,508% diperoleh pada konsentrasi urease 75 g/L dengan pemeraman 3 hari. Peningkatan CBR unsoaked terbesar mencapai 66,67% pada konsentrasi urease 50 gr/L dengan pemeraman 28 hari. Pada tanah Sentul, UCS peningkatan tersebsar mencapai 26,04% pada konsentrasi urease 100 g/L, CBR unsoaked meningkat hingga 5,72%, sedangkan swelling potential menurun dari 5,128% menjadi 2,339–4,292%. Hasil XRD belum mengidentifikasi puncak kalsit secara jelas, sedangkan SEM menunjukkan material kristalin yang diperkirakan sebagai presipitat EICP. Respons perlakuan tidak bersifat linier dan kondisi optimum bergantung pada karakteristik awal tanah serta parameter yang ditinjau.
Perpustakaan Digital ITB