Keberadaan pohon di lingkungan Kampus Ganesha Institut Teknologi Bandung memberikan
manfaat ekologis sekaligus menghadirkan risiko keselamatan akibat kegagalan dahan.
Kegagalan tersebut dapat terjadi secara tiba-tiba, merusak kendaraan dan fasilitas, serta
membahayakan manusia. Pemeriksaan yang diterapkan saat ini masih mengandalkan inspeksi
visual berkala yang bersifat subjektif dan tidak dapat menangkap degradasi internal maupun
kejadian transien secara kontinu. Tugas akhir ini bertujuan untuk mengembangkan sistem
pemantauan kesehatan struktural dahan berbasis IoT yang dapat merekam perilaku dahan,
mengekstraksi parameter biomekanis, menyimpan hasil pemantauan, dan menyampaikan
peringatan kepada pengguna sebagai data pendukung tindakan mitigasi.
Bagian yang dikerjakan dalam tugas akhir ini meliputi subsistem node, server, dan power
supply beserta integrasinya dengan sensor emisi akustik. Node menggunakan mikrokontroler
ESP32-S3 dan sensor LSM6DS3 untuk membaca akselerasi linear dan kecepatan sudut tiga
sumbu pada frekuensi 52 Hz. Data inersial diolah secara lokal menggunakan adaptive
complementary filter untuk memperkirakan kemiringan dahan. TKEO digunakan untuk
mengidentifikasi gangguan, sedangkan fase peluruhan bebas dianalisis untuk memperoleh
frekuensi natural dan rasio redaman. Frekuensi natural dihitung menggunakan FFT dengan
Hann window, zero-padding, dan segmentasi tumpang-tindih untuk menyesuaikan panjang
rekaman. Data mentah, telemetri, dan peringatan disimpan pada MicroSD melalui mekanisme
queue agar pencatatan tetap berjalan ketika jaringan mengalami gangguan. Pesan yang belum
terkirim kemudian diteruskan menggunakan MQTT melalui Wi-Fi.
Subsistem server menerima telemetri dari beberapa node melalui broker MQTT, menyimpan
data, dan menyediakan mekanisme analisis lanjutan. Antarmuka web menampilkan kondisi
node, riwayat parameter, grafik pemantauan, dan pengaturan konfigurasi. Perubahan
kemiringan yang terjadi secara bertahap maupun tiba-tiba dapat menghasilkan label peringatan
pada antarmuka. Bot Telegram digunakan sebagai antarmuka tambahan untuk menyampaikan
peringatan secara langsung kepada pengguna. Subsistem power supply menggunakan baterai
tiga sel dengan jalur distribusi 12 V untuk mengurangi rugi daya pada kabel, sedangkan
tegangan pada tiap perangkat diturunkan menggunakan buck converter. Setiap jalur keluaran
dilindungi oleh sekring. Seluruh perangkat dipasang secara non-intrusif menggunakan tali
pengikat dan ditempatkan di dalam kotak pelindung.
Pengujian dilakukan menggunakan testbench dahan kantilever dengan tiga spesimen
berdiameter 26–36 mm. Kerusakan struktural disimulasikan melalui pemotongan melintang
sebesar 0%, 25%, dan 50% diameter. Node berhasil mendeteksi interval gangguan dan
ii
peluruhan bebas serta menghitung parameter biomekanis dari setiap uji tarik-dan-lepas. Pada
spesimen utuh, frekuensi natural tetap berada di sekitar 13,1 Hz untuk perpindahan 30–100
mm, yang menunjukkan bahwa hasil pengukuran tidak bergantung kuat pada besar masukan
dalam rentang pengujian. Peningkatan kedalaman potongan menghasilkan kecenderungan
penurunan frekuensi natural pada ketiga spesimen, sehingga parameter tersebut menjadi
indikator degradasi yang paling konsisten. Sebaliknya, rasio redaman belum menunjukkan
hubungan yang konsisten terhadap tingkat kerusakan.
Stress test menunjukkan bahwa sistem terintegrasi mampu menerima data sensor, mengolah
data pada node, mengirim telemetri dan peringatan ke server, menampilkan hasil melalui web,
serta meneruskan notifikasi melalui Telegram. Sistem menggunakan sampling rate 52 Hz,
dengan kapasitas penyimpanan lokal lebih dari satu hari, akses oleh sedikitnya tiga pengguna,
jangkauan jaringan pada lokasi pengujian di Kampus Ganesha, dan biaya pembuatan sekitar
satu juta rupiah. Namun, resolusi efektif kemiringan hanya mencapai 0,1°, kapasitas daya
diperkirakan 4,3 hari dari target 14 hari, dimensi node sedikit melebihi target, perlindungan
enklosur baru mencapai IP43, dan antarmuka web belum memiliki autentikasi. Pengujian juga
masih terbatas pada spesimen dahan terlepas dalam kondisi terkendali dan belum melibatkan
pengguna akhir. Dengan demikian, sistem berhasil membuktikan konsep pemantauan dahan
secara terintegrasi dan menunjukkan frekuensi natural sebagai parameter potensial untuk
memantau perubahan kondisi struktural, tetapi masih memerlukan penyempurnaan sebelum
diterapkan untuk pemantauan jangka panjang pada pohon hidup.
Perpustakaan Digital ITB