digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800



BAB 1 Hasna Nadiyah Nur Azizzah
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Hasna Nadiyah Nur Azizzah
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Hasna Nadiyah Nur Azizzah
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Hasna Nadiyah Nur Azizzah
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Hasna Nadiyah Nur Azizzah
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA Hasna Nadiyah Nur Azizzah
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

LAMPIRAN Hasna Nadiyah Nur Azizzah
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

Pengetatan regulasi global terhadap surfaktan, seperti Regulation (EU) 2026/405 yang mewajibkan seluruh surfaktan memenuhi persyaratan ultimate biodegradability, mendorong meningkatnya kebutuhan akan surfaktan berbasis bahan baku terbarukan. Salah satunya adalah Alkyl Polyglycoside (APG), surfaktan nonionik turunan karbohidrat dan alkohol lemak yang dikenal memiliki biodegradabilitas tinggi, iritasi rendah, dan kemampuan pembentukan busa yang baik. Di antara berbagai jenisnya, APG C10 (decyl glucoside) menarik dikembangkan karena kinerja aktivitas permukaannya yang baik. Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri APG mengingat ketersediaan bahan bakunya yang melimpah, namun hingga saat ini belum terdapat produksi APG skala industri di dalam negeri. Penelitian ini bertujuan menyintesis APG C10 dari glukosa monohidrat dan 1-dekanol melalui metode tidak langsung (indirect glycosidation) dua tahap, yaitu butanolisis dan transasetalisasi, dengan asam ptoluenasulfonat (PTSA) sebagai katalis pada kondisi atmosferik. Tahap butanolisis dilakukan dengan mereaksikan glukosa monohidrat dan 1-butanol (rasio mol 1:8, PTSA 1 mol%, 110 °C, 6 jam) untuk menghasilkan APG C4, yang selanjutnya direaksikan dengan 1-dekanol pada tahap transasetalisasi (115 °C, 4 jam). Kajian difokuskan pada variasi rasio mol glukosa:1-dekanol (1:3,5; 1:4,5; 1:5,5; 1:6,5; dan 1:7,5) serta kadar katalis PTSA (0,25; 0,50; 0,75; 1,00; dan 1,25 mol%) pada tahap transasetalisasi. Produk dikarakterisasi melalui konfirmasi struktur dengan FTIR serta pengujian densitas, viskositas, tegangan permukaan, tegangan antarmuka, kemampuan pembusaan, dan kelarutan. Analisis FTIR mengonfirmasi terbentuknya ikatan glikosidik C-O-C (puncak ~1150 cm?¹). Produk mampu menurunkan tegangan permukaan air dari 71,7 menjadi 26,9-30,2 dyne/cm (penurunan 57,9-62,5%) dan tegangan antarmuka air-xilena dari 35,6 menjadi 6,2–10,3 dyne/cm (penurunan 71,2–82,5%), menegaskan produk bersifat aktif permukaan. Kondisi terbaik diperoleh pada rasio mol glukosa:1-dekanol 1:7,5 (seri variasi rasio) dan pada kadar katalis PTSA 1,25 mol% (seri variasi katalis), masingmasing berdasarkan penurunan tegangan permukaan dan tegangan antarmuka terbaik.