digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Rendahnya efikasi dan bioavailabilitas obat antikanker berbasis molekul kecil menyebabkan penurunan efektivitas terapi yang dilakukan. Kegagalan kerja obat antikanker sering kali menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan dan justru memperburuk kondisi kesehatan dari pasien. Untuk itu, diperlukan teknologi yang dapat meningkatkan efikasi obat antikanker berbasis molekul kecil dan mampu mencapai target dengan tepat untuk menghindari efek samping dari obat. Teknologi sistem penghantar obat dapat mengatasi kegagalan kerja dari obat antikanker. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem penghantar obat berbasis zeolitic imidazolate framework – 8 (ZIF-8) yang dimodifikasi dengan 2- aminobenzimidazole (2-ABI) dan polyethylene glycol (PEG) berukuran nano untuk terapi kanker. Modifikasi dilakukan untuk mengatur sifat fisik-kimia material, meningkatkan interaksi dengan molekul obat, serta memperbaiki stabilitas dan kompatibilitas sistem pada lingkungan biologis. Material hasil sintesis dikarakterisasi melalui analisis struktur kristal, gugus fungsi, morfologi, luas permukaan, ukuran pori, ukuran partikel, serta zeta potensial. Kurkumin dan doksorubisin dipilih sebagai model obat alami dan sintetik untuk mengevaluasi pengaruh perbedaan sifat molekul dan interaksi obat-sistem penghantar. Kinerja sistem penghantar dievaluasi secara in vitro pada lini sel HeLa. Hasil menunjukkan bahwa modifikasi ZIF-8 dengan 2-ABI meningkatkan interaksi obat-material ditandai dengan nilai efisiensi pemuatan kurkumin tertinggi dan signifikan secara statistik pada variasi ZIF-8-NH2 5%. Modifikasi pascasintesis dengan molekul kurkumin atau doksorubisin dan PEG menghasilkan sistem penghantar dengan nilai pemuatan obat 1,8 kali lebih tinggi pada kurkumin dibandingkan doksorubisin dan peningkatan dispersibilitas pada pelarut berair. Temuan ini divalidasi dengan kehadiran gugus-gugus fungsi yang bersesuaian dengan molekul obat dan PEG tanpa mengubah struktur dasar dari ZIF-8. Uji in vitro pada sel HeLa menunjukkan bahwa sistem penghantar PEG@ZIF berhasil terinternalisasi ke dalam sel, serta meningkatkan aktivitas sitotoksisitas formula sistem penghantar dengan obat dibandingkan dengan tanpa obat.