Peningkatan kebutuhan biodiesel di Indonesia akibat implementasi program B40
tidak hanya meningkatkan meningkatkan konsumsi minyak kelapa sawit dan
alkohol sebagai bahan baku, tetapi juga mendorong pengembangan katalis yang
lebih berkelanjutan. Penggunaan katalis basa konvensional seperti KOH dan
terbatas pada satu kali penggunaan karena kelarutannya pada biodiesel, yang jika
tidak dipisahkan dapat menyebabkan korosi dan penyumbatan pada kendaraan.
Oleh karena itu, pengembangan katalis basa heterogen menjadi alternatif untuk
meningkatkan stabilitas katalis dan mempermudah proses purifikasi biodiesel.
Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis katalis basa heterogen dari biochar
Sargassum sp. yang memiliki kadar karbon tetap dan abu masing-masing sebesar
39,275±5,210%DW dan 19,254±3,325%DW. Sargassum sp. dikarbonisasi pada
variasi suhu 500, 600, dan 700°C, kemudian di impregnasi menggunakan KOH 7
M. Karakterisasi biochar dan katalis dilakukan menggunakan analisis BET, AAS,
SEM, dan titrasi asam-basa. Setiap variasi katalis diuji untuk reaksi
transesterifikasi minyak kelapa sawit dengan variasi konsentrasi katalis sebesar 3,
5, dan 7% terhadap berat minyak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa katalis
basa heterogen yang dikarbonisasi pada suhu 500°C memiliki tingkat kebasaan
terbaik (5,525±0,068mmol/g), serta menghasilkan rendemen biodiesel tertinggi
(95,737±1,019%) pada penggunaan katalis 5% (S500-5). Tingginya rendemen
biodiesel dipengaruhi oleh total kebasaan katalis yang memberikan aktivitas
katalitik paling optimal selama reaksi. Biodiesel yang dihasilkan pada titik
optimum (S500-5) memiliki densitas 0,86±0,01g/mL yang telah memenuhi
standar SNI 7182:2015. Namun, viskositas dinamik dan persentase FAME yang
diperoleh masih belum memenuhi standar, dengan nilai sebesar 6,7±0,4 cSt dan
95,67%, menunjukkan potensi Sargassum sp. sebagai katalis basa heterogen,
meskipun masih diperlukan optimasi kondisi reaksi transesterifikasi.
Perpustakaan Digital ITB