digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Peningkatan kebutuhan biodiesel di Indonesia akibat implementasi program B40 tidak hanya meningkatkan meningkatkan konsumsi minyak kelapa sawit dan alkohol sebagai bahan baku, tetapi juga mendorong pengembangan katalis yang lebih berkelanjutan. Penggunaan katalis basa konvensional seperti KOH dan terbatas pada satu kali penggunaan karena kelarutannya pada biodiesel, yang jika tidak dipisahkan dapat menyebabkan korosi dan penyumbatan pada kendaraan. Oleh karena itu, pengembangan katalis basa heterogen menjadi alternatif untuk meningkatkan stabilitas katalis dan mempermudah proses purifikasi biodiesel. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis katalis basa heterogen dari biochar Sargassum sp. yang memiliki kadar karbon tetap dan abu masing-masing sebesar 39,275±5,210%DW dan 19,254±3,325%DW. Sargassum sp. dikarbonisasi pada variasi suhu 500, 600, dan 700°C, kemudian di impregnasi menggunakan KOH 7 M. Karakterisasi biochar dan katalis dilakukan menggunakan analisis BET, AAS, SEM, dan titrasi asam-basa. Setiap variasi katalis diuji untuk reaksi transesterifikasi minyak kelapa sawit dengan variasi konsentrasi katalis sebesar 3, 5, dan 7% terhadap berat minyak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa katalis basa heterogen yang dikarbonisasi pada suhu 500°C memiliki tingkat kebasaan terbaik (5,525±0,068mmol/g), serta menghasilkan rendemen biodiesel tertinggi (95,737±1,019%) pada penggunaan katalis 5% (S500-5). Tingginya rendemen biodiesel dipengaruhi oleh total kebasaan katalis yang memberikan aktivitas katalitik paling optimal selama reaksi. Biodiesel yang dihasilkan pada titik optimum (S500-5) memiliki densitas 0,86±0,01g/mL yang telah memenuhi standar SNI 7182:2015. Namun, viskositas dinamik dan persentase FAME yang diperoleh masih belum memenuhi standar, dengan nilai sebesar 6,7±0,4 cSt dan 95,67%, menunjukkan potensi Sargassum sp. sebagai katalis basa heterogen, meskipun masih diperlukan optimasi kondisi reaksi transesterifikasi.