digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pertumbuhan pesat mobilitas udara di Indonesia menuntut pemahaman mendalam mengenai dinamika aliran penumpang dan ketahanan struktural infrastruktur penerbangannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aliran penumpang terhadap konektivitas dan ketahanan Jaringan Transportasi Udara Indonesia (IATN) pada tahun 2018. Jaringan dimodelkan sebagai graf berarah dan berbobot menggunakan teori jaringan kompleks, di mana bandara direpresentasikan sebagai simpul, rute penerbangan sebagai sisi, dan volume penumpang sebagai bobot. Kerangka analisis mencakup evaluasi asimetri aliran penumpang, deteksi komunitas Louvain untuk mengidentifikasi sentralisasi regional, metrik sentralitas multi-kriteria untuk mengisolasi simpul kritis, serta simulasi gangguan Monte Carlo untuk mengukur ketahanan struktural melalui koefisien-R di bawah skenario kegagalan acak dan serangan terarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IATN sangat tersentralisasi secara regional menjadi empat komunitas yang stabil, dengan mempertahankan ekuilibrium aliran dua arah yang kuat pada koridor-koridor utamanya. Meskipun Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) mendominasi sebagai pusat lalu lintas berkapasitas tertinggi, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin (UPG) teridentifikasi sebagai jembatan topologis paling kritis yang mengintegrasikan kawasan Indonesia Timur. Simulasi gangguan secara matematis mengonfirmasi bahwa jaringan memiliki ketangguhan tinggi terhadap kegagalan stokastik acak (R = 0,4020), namun sangat rentan terhadap serangan terarah pada simpul jembatan struktural (R = 0,0882). Kelumpuhan pada kurang dari 20 pusat transit strategis terbukti memicu fragmentasi makroskopis yang sangat cepat pada Komponen Terhubung Terbesar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa di balik ketangguhan stokastiknya, arsitektur penerbangan nasional memiliki ketergantungan struktural yang ekstrem pada sebagian kecil bandara transit.