Pertumbuhan pesat mobilitas udara di Indonesia menuntut pemahaman mendalam mengenai
dinamika aliran penumpang dan ketahanan struktural infrastruktur penerbangannya.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aliran penumpang terhadap konektivitas
dan ketahanan Jaringan Transportasi Udara Indonesia (IATN) pada tahun 2018. Jaringan
dimodelkan sebagai graf berarah dan berbobot menggunakan teori jaringan kompleks,
di mana bandara direpresentasikan sebagai simpul, rute penerbangan sebagai sisi, dan
volume penumpang sebagai bobot. Kerangka analisis mencakup evaluasi asimetri aliran
penumpang, deteksi komunitas Louvain untuk mengidentifikasi sentralisasi regional, metrik
sentralitas multi-kriteria untuk mengisolasi simpul kritis, serta simulasi gangguan Monte
Carlo untuk mengukur ketahanan struktural melalui koefisien-R di bawah skenario kegagalan
acak dan serangan terarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IATN sangat tersentralisasi
secara regional menjadi empat komunitas yang stabil, dengan mempertahankan ekuilibrium
aliran dua arah yang kuat pada koridor-koridor utamanya. Meskipun Bandara Internasional
Soekarno-Hatta (CGK) mendominasi sebagai pusat lalu lintas berkapasitas tertinggi, Bandara
Internasional Sultan Hasanuddin (UPG) teridentifikasi sebagai jembatan topologis paling
kritis yang mengintegrasikan kawasan Indonesia Timur. Simulasi gangguan secara matematis
mengonfirmasi bahwa jaringan memiliki ketangguhan tinggi terhadap kegagalan stokastik
acak (R = 0,4020), namun sangat rentan terhadap serangan terarah pada simpul jembatan
struktural (R = 0,0882). Kelumpuhan pada kurang dari 20 pusat transit strategis terbukti
memicu fragmentasi makroskopis yang sangat cepat pada Komponen Terhubung Terbesar.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa di balik ketangguhan stokastiknya, arsitektur penerbangan
nasional memiliki ketergantungan struktural yang ekstrem pada sebagian kecil bandara
transit.
Perpustakaan Digital ITB