Transformasi kafe menjadi ruang kerja informal pasca-pandemi memperlihatkan
bahwa fasilitas duduk bukan sekadar elemen furnitur pendukung, melainkan agen
formatif yang turut membentuk kondisi atensi penggunanya. Penelitian ini bertolak
dari premis bahwa pergeseran tipe fasilitas duduk (dining chair, stool, dan bar
stool) merepresentasikan sebuah revolusi kecil namun konsekuensial dalam cara
tubuh dan kognisi saling membentuk selama aktivitas kerja berlangsung. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana ketiga tipe fasilitas
duduk tersebut secara formatif memengaruhi kondisi atensi, dengan kualitas
postural, kinerja tugas, dan persepsi beban kerja sebagai jalur mekanisme
penjelasnya.
Penelitian diawali dengan studi lapangan di Café Hi Brew dengan 32 responden,
kemudian dilanjutkan dengan desain eksperimen within-subject yang melibatkan
17 partisipan dewasa muda di Bandung. Hasil studi lapangan menunjukkan bahwa
meskipun 81,3% pengunjung memilih kursi makan sebagai fasilitas kerja yang
ideal, 75% di antaranya tetap mengeluhkan nyeri pada punggung bawah setelah
durasi melebihi 30 menit. Kondisi tersebut dieksplorasi lebih lanjut di laboratorium
melalui instrumen Persepsi Beban Kerja (NASA-TLX), Biomekanik (Rapid Entire
Body Assessment dan Rapid Upper Limb Assessment), Fisiologi
(Electroencephalography), dan tugas atensi (Sustained Attention to Response
Task). Ditemukan perbedaan signifikan pada variabilitas waktu reaksi (p = 0,019),
di mana bar stool secara drastis mengganggu konsistensi atensi. Dining chair
konsisten menghasilkan performa kognitif terbaik dengan tingkat commission error
terendah (23,56%), waktu reaksi tercepat, serta risiko postural terendah.
Sebaliknya, penggunaan stool justru memicu peningkatan commission error hingga
hampir dua kali lipat dan menyebabkan kompetisi sumber daya perhatian akibat
tingginya tuntutan penyesuaian postural tubuh.
Perpustakaan Digital ITB